Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Pemko Batam Pastikan Biaya Tambahan Tiket Feri Sementara

Arjuna • Sabtu, 14 Maret 2026 | 12:00 WIB

Sejumlah wisatawan turun dari bus saat tiba di Pelabuhan Internasional Batamcenter beberapa waktu lalu. F Cecep Mulyana/Batam Pos
Sejumlah wisatawan turun dari bus saat tiba di Pelabuhan Internasional Batamcenter beberapa waktu lalu. F Cecep Mulyana/Batam Pos

batampos – Pemerintah Kota Batam memastikan penambahan biaya bahan bakar pada tiket kapal feri rute Batam–Singapura tidak bersifat permanen. Kenaikan tersebut terjadi akibat meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar global.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Batam, Ardiwinata, mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kota Batam untuk menelusuri penyebab munculnya biaya tambahan pada tiket kapal feri.

“Dari hasil koordinasi kami, kenaikan ini semata-mata karena harga minyak yang meningkat. Mungkin dipengaruhi situasi konflik di Timur Tengah. Namun kondisi ini tidak permanen dan bisa berubah sewaktu-waktu,” katanya, Jumat (13/3).

Ia menjelaskan bahwa struktur biaya operasional kapal tidak hanya bergantung pada bahan bakar. Berbagai komponen lain turut memengaruhi harga tiket, mulai dari biaya operasional kapal hingga biaya sandar di pelabuhan.

“Komponen tiket itu banyak, bukan hanya minyak. Ada juga biaya operasional lain seperti gaji pekerja, biaya tambat kapal, dan sebagainya,” ujarnya.

Ardi berharap situasi global segera membaik sehingga biaya transportasi laut dapat kembali stabil. Di tengah kondisi tersebut, pelaku industri pariwisata di Batam diminta tetap optimistis terhadap prospek sektor pariwisata daerah.

Menurutnya, pemerintah daerah terus melakukan pembenahan untuk meningkatkan daya tarik wisata, termasuk memperkuat konektivitas transportasi yang menunjang mobilitas wisatawan.

“Pariwisata memiliki tiga komponen utama, yaitu aksesibilitas, amenitas, dan atraksi. Saat ini kita terus memperkuat semuanya agar Batam tetap menarik bagi wisatawan,” katanya.

Ia juga mengapresiasi peran pelaku industri perjalanan dan agen travel yang selama ini menjadi ujung tombak dalam mendatangkan wisatawan ke Batam.

Pemerintah Kota Batam menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara mencapai sekitar 1,7 juta orang pada 2026. Target tersebut diharapkan tetap dapat dicapai meskipun situasi ekonomi global menghadirkan sejumlah tantangan.

“Pertumbuhan ekonomi Batam pada 2025 cukup baik, bahkan berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu kami berharap sektor pariwisata tetap menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah,” kata Ardi.

Praktisi pariwisata Kepulauan Riau, Surya Wijaya, melihat kenaikan biaya transportasi laut sebagai salah satu dampak awal dari konflik yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah yang mulai memengaruhi perekonomian global.

“Perang Iran yang sudah berlangsung perlahan mulai memberikan efek kepada negara kita. Yang paling terasa adalah ekonomi yang mulai terdampak,” katanya.

Wilayah perbatasan seperti Batam yang bergantung pada arus wisatawan mancanegara dinilai cukup rentan terhadap gejolak ekonomi global. Ia menyebut dampak tersebut mulai terasa di sektor transportasi laut.

“Kemarin saja sudah ada empat kapal yang batal berangkat. Pengelola tidak berani berlayar karena Malaysia sudah menaikkan harga BBM,” ujarnya.

Surya juga melihat sinyal perlambatan ekonomi di negara tetangga. Saat melakukan kunjungan kerja ke Johor, aktivitas di sejumlah bazar Ramadan tidak seramai biasanya.

“Bazar Ramadan di Malaysia biasanya sangat ramai. Namun kali ini aktivitas belanja masyarakat terlihat lebih berhati-hati,” katanya.

Menurut dia, pemerintah Malaysia juga telah mengimbau masyarakat untuk berhemat karena potensi kenaikan harga bahan bakar akibat dampak konflik global.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi jumlah wisatawan dari Malaysia yang berkunjung ke Batam dan wilayah lain di Kepulauan Riau.

Di sisi lain, pemerintah daerah tetap menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara ke Batam mencapai sekitar 1,7 juta orang pada 2026, sementara target tingkat provinsi mencapai 2,7 juta kunjungan. Surya menyebut situasi global saat ini dapat menjadi tantangan bagi pencapaian target tersebut.

“Kondisi ini kemungkinan baru benar-benar terasa setelah Ramadan. Industri dan pemerintah sebenarnya sudah menyiapkan berbagai program untuk menarik wisatawan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa ekosistem pariwisata mencakup integrasi berbagai unsur, mulai dari atraksi wisata, akomodasi, transportasi, layanan pendukung hingga keterlibatan masyarakat lokal.

“Ekosistem pariwisata adalah integrasi antara atraksi, akomodasi, transportasi, layanan pendukung dan masyarakat lokal yang didukung pemerintah dan swasta,” ujarnya. (*)

Editor : Jamil Qasim