batampos - Cockroach Janta Party (CJP) atau Partai Kecoak merupakan sebuah gerakan satir politik yang mendadak viral dan menarik jutaan pengikut dalam waktu singkat.
Fenomena ini menjadi simbol kemarahan generasi muda India terhadap pengangguran, mahalnya biaya hidup, dan situasi politik nasional.
Fenomena bermula setelah komentar kontroversial Ketua Mahkamah Agung India, Surya Kant, yang disebut membandingkan sebagian anak muda pengangguran dengan kecoak dan parasit saat sidang pengadilan.
Ucapannya lebih dulu viral dan memicu kemarahan publik, khususnya kalangan Gen Z India.
Gerakan Cockroach Janta Party kemudian dibentuk oleh Abhijeet Dipke, ahli strategi komunikasi politik asal India yang kini menempuh studi di Boston University, Amerika Serikat.
Baca Juga: Iran Tegaskan Tak Cari Konsesi dari AS, Tuntut Pencabutan Sanksi dan Pelepasan Aset
Namun, akun Instagram CJP melonjak hingga belasan juta pengikut dan bahkan melampaui akun resmi Partai Bharatiya Janata (BJP), partai penguasa pimpinan Perdana Menteri Narendra Modi.
Nama Cockroach Janta Party sengaja dibuat sebagai plesetan dari Bharatiya Janata Party (BJP). Simbol kecoak dipilih karena dianggap merepresentasikan kelompok yang diremehkan, tetapi tetap mampu bertahan hidup dalam tekanan sosial dan ekonomi.
Gerakan menggunakan meme, video satir, humor aneh untuk menyuarakan isu pengangguran, kebocoran ujian nasional, ketimpangan ekonomi, hingga reformasi politik.
Salah satu syarat keanggotaan yang viral di media sosial adalah harus menganggur, malas, aktif di internet, dan memiliki kemampuan mengeluh secara profesional.
Banyak pengamat menilai gerakan mencerminkan frustrasi nyata anak muda India yang merasa tidak terwakili oleh partai politik tradisional.
BJP menuduh sebagian besar pengikut akun CJP berasal dari luar India. Akun media sosial dan situs resmi gerakan sempat dibatasi aksesnya di India.
Partai Kecoak menjadi simbol baru keresahan generasi muda India di era media sosial. Banyak analis melihat gerakan tersebut sebagai bentuk protes digital terhadap pengangguran dan ketidakpercayaan terhadap sistem politik konvensional.(*)
Editor : Juliana Belence