batampos – Kementerian Keuangan China mengumumkan larangan pembelian produk dari 46 perusahaan Amerika Serikat (AS) dalam kegiatan pengadaan pemerintah. Kebijakan tersebut mulai diberlakukan sebagai bagian dari langkah pengaturan pengadaan barang dan jasa pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku di negara tersebut.
Dalam pernyataan yang dirilis pada Senin, Kementerian Keuangan China menyebutkan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan hukum dan regulasi yang berlaku.
“Sesuai dengan hukum dan peraturan yang berlaku, telah diambil keputusan untuk memberlakukan tindakan terkait terhadap 46 perusahaan AS dalam kerangka kegiatan pengadaan pemerintah,” demikian pernyataan kementerian tersebut.
Melalui kebijakan itu, lembaga dan instansi pemerintah di China dilarang membeli produk yang diproduksi oleh 46 perusahaan AS yang masuk dalam daftar pembatasan. Namun, pengecualian diberikan kepada perusahaan yang memperoleh investasi dari AS dan beroperasi di wilayah China.
Sejumlah perusahaan besar sektor pertahanan dan teknologi AS masuk dalam daftar tersebut. Di antaranya adalah Lockheed Martin Corporation, Raytheon Missiles & Defense, General Atomics Aeronautical Systems, dan General Dynamics Land Systems.
Baca Juga: Volvo Perluas Akses Tesla Supercharger, Pengisian Daya EV Makin Praktis
Selain itu, pembatasan juga mencakup Boeing Defense, Space & Security, Inter-Coastal Electronics, Teledyne FLIR, VSE Corporation, Cubic Global Defense, Dedrone by Axon, Oceaneering International, serta DZYNE Technologies.
Daftar tersebut juga mencakup sejumlah perusahaan lain yang bergerak di bidang pertahanan, keamanan, dan teknologi tinggi, seperti Elbit Systems of America, Epirus, AeroVironment, Exelis, Alliant Techsystems, BAE Systems, Cyberlux Corporation, Sierra Nevada Corporation, Shield AI, serta Summit Technologies.
Kebijakan terbaru ini menambah daftar langkah pembatasan yang diterapkan Beijing terhadap perusahaan-perusahaan AS, khususnya yang terkait dengan sektor pertahanan dan teknologi strategis. Langkah tersebut diperkirakan akan semakin mempertegas dinamika hubungan ekonomi dan keamanan antara China dan Amerika Serikat yang dalam beberapa tahun terakhir diwarnai berbagai kebijakan pembatasan perdagangan dan teknologi. (*)
Editor : Putut Ariyo