Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kacamata Pintar AI Meta Masih Dibayangi Isu Privasi, Ini Strateginya

jpg • Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:01 WIB
Andrew Bosworth, Chief Technology Officer (CTO) Meta, berbicara kepada media mengenai kacamata pintar terbaru Meta tanpa merek Ray-Ban / Foto: (Gizmodo)
Andrew Bosworth, Chief Technology Officer (CTO) Meta, berbicara kepada media mengenai kacamata pintar terbaru Meta tanpa merek Ray-Ban / Foto: (Gizmodo)

batampos – Meta terus memperkuat ambisinya di pasar perangkat wearable dengan menjadikan kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) sebagai salah satu calon pengganti fungsi ponsel di masa depan. Namun, langkah tersebut juga memunculkan tantangan baru, terutama terkait isu privasi di ruang publik.

Dalam peluncuran lini terbaru kacamata pintarnya, Meta memang tidak menghadirkan perubahan besar dari sisi perangkat keras. Namun, perusahaan mengambil langkah strategis dengan tidak lagi menonjolkan merek Ray-Ban, yang sebelumnya menjadi identitas utama produk tersebut.

Perubahan ini dinilai bukan sekadar penyegaran merek, melainkan bagian dari strategi Meta untuk membangun identitas produknya sendiri di pasar perangkat AI.

Di balik strategi tersebut, persoalan privasi tetap menjadi perhatian utama. Selama ini Meta kerap mendapat sorotan terkait pengelolaan data pengguna, termasuk potensi penggunaan teknologi pengenalan wajah serta kemampuan perangkat merekam aktivitas di sekitar pengguna tanpa sepengetahuan orang lain.

Chief Technology Officer (CTO) Meta, Andrew Bosworth, menilai penerimaan masyarakat terhadap teknologi baru akan terbentuk melalui proses yang disebutnya sebagai social learning atau pembelajaran sosial.

"Saya masih ingat ketika dulu ada kontroversi soal ponsel yang punya kamera. Itu bahkan terjadi sebelum era smartphone seperti sekarang," ujar Bosworth, seperti dikutip dari Gizmodo.

Ia menambahkan bahwa masyarakat pada akhirnya akan beradaptasi dengan kehadiran teknologi baru selama perusahaan bersikap terbuka mengenai fungsi perangkat yang digunakan.

"Ada proses pembelajaran sosial yang harus terjadi. Kacamata ini memiliki daya tarik luas dan digunakan dalam aktivitas sehari-hari. Kami berusaha sangat terbuka mengenai apa yang bisa dilakukan perangkat ini, serta memastikan bukan hanya pengguna, tetapi juga orang-orang di sekitar mereka merasa nyaman," katanya.

Pendekatan tersebut menunjukkan Meta lebih mengandalkan terbentuknya norma sosial dibandingkan pembatasan teknis yang ketat dalam mengatur penggunaan perangkat.

Meski demikian, pendekatan ini masih memunculkan perdebatan. Pengalaman Google Glass, misalnya, menunjukkan bahwa inovasi teknologi tidak selalu diterima masyarakat ketika dinilai mengancam privasi di ruang publik.

Selain itu, sejumlah pihak juga menyoroti efektivitas fitur keamanan yang diterapkan pada kacamata pintar Meta. Indikator perekaman berupa lampu LED dinilai masih memiliki celah untuk dimodifikasi sehingga belum sepenuhnya mampu mencegah potensi penyalahgunaan.

Perdebatan pun meluas ke ranah etika. Muncul pertanyaan apakah batas privasi di era perangkat AI akan terbentuk secara alami melalui kebiasaan masyarakat atau justru membutuhkan regulasi yang lebih tegas agar tidak tertinggal oleh laju inovasi teknologi.

Persaingan di industri ini juga semakin ketat dengan masuknya pemain lain seperti Google, serta potensi kehadiran Apple di segmen kacamata pintar berbasis AI.

Di tengah kompetisi tersebut, Meta tampaknya memilih membiarkan batas penggunaan teknologi dibentuk melalui adaptasi sosial. Dengan demikian, tantangan ke depan bukan hanya soal siapa yang paling cepat menghadirkan inovasi, tetapi juga siapa yang mampu menetapkan standar etika dan privasi yang dapat diterima masyarakat luas. (*)

Editor : Jamil Qasim
#kecerdasan buatan #meta