batampos – Amerika Serikat (AS) mengusulkan pembentukan mekanisme pemberitahuan bersama dengan Tiongkok untuk menangani persoalan kecerdasan buatan (AI) yang berkaitan dengan keamanan nasional. Usulan tersebut disampaikan menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping.
Dilansir dari Kyodo, Selasa (22/9), Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kedua negara perlu membangun sistem notifikasi apabila terjadi insiden AI yang berpotensi berkembang menjadi persoalan keamanan nasional.
Pembahasan mengenai hal tersebut berlangsung dalam pertemuan perdagangan antara delegasi AS dan Tiongkok di New York.
Bessent mengatakan AS ingin membangun “visi bersama mengenai tujuan dan ancaman yang sama” dengan Tiongkok, khususnya di bidang AI yang menjadi salah satu sektor strategis bagi kedua negara.
“Harus ada pemberitahuan jika terjadi insiden, apakah ada sesuatu yang meningkat hingga level keamanan nasional akibat AI,” ujar Bessent kepada wartawan.
Menurut Bessent, AS memandang transparansi yang lebih besar diperlukan dalam hubungan antara dua negara yang menjadi kekuatan utama di bidang AI. Ia menilai hubungan lintas batas, termasuk dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan, perlu bergerak dari ketidakjelasan menuju keterbukaan yang lebih besar.
“Seperti aktivitas lintas batas lainnya, kami berpikir bahwa perpindahan dari ketidakjelasan menuju transparansi yang lebih besar antara dua kekuatan AI ini merupakan hal penting,” katanya.
Bessent menghadiri pembicaraan tersebut bersama Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer. Pertemuan digelar di kantor pusat JPMorgan Chase di Manhattan, New York. Delegasi Tiongkok dipimpin Wakil Perdana Menteri He Lifeng.
Bessent menyebut pertemuan tersebut berjalan sangat baik. Kedua pihak juga sepakat memfasilitasi dialog mengenai AI dan kembali mengadakan pertemuan pada masa mendatang.
AI dan Gencatan Senjata Perdagangan
Xi Jinping dijadwalkan tiba di Washington pada Rabu sore waktu setempat. Kunjungan tersebut menjadi kunjungan pertamanya ke ibu kota AS dalam 11 tahun terakhir.
Dalam pertemuan dengan Trump yang dijadwalkan berlangsung pada Kamis, keselamatan AI dan kemungkinan perpanjangan gencatan senjata perdagangan diperkirakan menjadi sejumlah agenda utama.
Kunjungan kenegaraan Xi ke Washington selama tiga hari dilakukan setelah Trump mengunjungi Beijing pada pertengahan Mei. Dalam kunjungan tersebut, kedua pemimpin secara resmi menyepakati pembentukan dewan perdagangan dan investasi secara terpisah.
Bessent maupun Greer tidak mengungkapkan apakah AS dan Tiongkok telah memutuskan untuk memperpanjang gencatan senjata perdagangan selama satu tahun.
Kesepakatan tersebut diumumkan setelah Trump dan Xi bertemu langsung di Korea Selatan pada Oktober tahun lalu, ketika kedua negara sebelumnya memberlakukan tarif balasan yang melebihi 100 persen.
Gencatan senjata ekonomi tersebut dijadwalkan berakhir pada 10 November.
“Apa yang kami lakukan adalah membantu Presiden Trump dan Presiden Xi melanjutkan hubungan mereka. Kedua negara ini merupakan negara paling kuat di dunia, baik dalam perdagangan maupun AI, dan sangat penting bagi mereka untuk dapat bekerja sama,” ujar Greer.
Meski demikian, Greer mengakui hubungan AS dan Tiongkok masih menghadapi sejumlah tantangan. Ia tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai pembahasan yang dilakukan bersama para pejabat senior Tiongkok.
Potensi Penurunan Tarif Barang
Greer mengatakan pembatasan ekspor produk berteknologi tinggi AS ke Tiongkok tidak masuk dalam agenda pembahasan ketika kedua pihak mendiskusikan pengembangan dialog mengenai AI.
Namun, ia mengisyaratkan bahwa Trump dan Xi berpotensi mengumumkan penurunan tarif secara timbal balik untuk sejumlah barang dari sektor nonstrategis.
Barang-barang tersebut dapat mencakup produk berteknologi rendah dari Tiongkok serta produk energi dan pertanian dari AS. Perangkat medis juga berpotensi masuk dalam daftar barang yang dibahas.
AS dan Tiongkok sebelumnya telah menyepakati pengurangan tarif terhadap barang senilai USD30 miliar atau sekitar Rp528,9 triliun dari masing-masing negara. Dewan perdagangan kedua negara kini berupaya menentukan produk tambahan yang akan dimasukkan ke dalam daftar tersebut.
“Ada kemungkinan sebagian kecil barang dari AS dan Tiongkok dapat diperdagangkan secara seimbang, selama barang-barang itu tidak sensitif,” kata Greer.
Ia menambahkan bahwa setiap tindakan perdagangan baru dapat dipertimbangkan sebagai kategori tersendiri, terpisah dari barang-barang yang dianggap sensitif secara strategis.
Sementara itu, mitra Greer dari Tiongkok, Li Chenggang, mengatakan kedua negara akan melanjutkan pembicaraan di tingkat teknis pada Senin. (*)
Editor : Cipi Ckandina