batampos - Rumor mengenai kondisi kesehatan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un kembali mencuat. Sejumlah klaim di media sosial menyebut Kim mengalami pendarahan otak hingga koma dan harus dibawa ke Beijing, Tiongkok, untuk mendapatkan perawatan darurat. Namun, kabar tersebut belum terverifikasi dan belum mendapat konfirmasi resmi.
Spekulasi itu kembali menyoroti kondisi kesehatan Kim serta aktivitas pemerintahan di Pyongyang. Pengamat Korea Utara menilai, respons pemerintah dalam beberapa waktu ke depan dapat menjadi petunjuk untuk membaca situasi, meski belum cukup untuk memastikan kondisi kesehatan sang pemimpin.
Melansir Turkiye Today, Kim terakhir kali terlihat di hadapan publik pada 11 Oktober saat mengunjungi sebuah museum pertahanan baru di lokasi yang tidak diungkapkan secara terperinci di Pyongyang. Dalam kunjungan tersebut, putrinya yang berusia 13 tahun, Kim Ju Ae, turut mendampinginya, berdasarkan foto-foto yang dirilis.
Sejak kemunculan itu, rumor mengenai kondisi kesehatan Kim kembali menjadi bahan spekulasi. Sejumlah unggahan di media sosial bahkan mengklaim Kim mengalami pendarahan otak dan dibawa ke Peking Union Medical College di Beijing untuk mendapatkan penanganan medis.
Namun, klaim mengenai kondisi kritis hingga lokasi perawatan tersebut belum didukung bukti yang dapat diverifikasi. Belum ada pula konfirmasi resmi yang membuktikan bahwa Kim mengalami koma atau menjalani perawatan darurat di Tiongkok.
Pengamat Prediksi Pyongyang Akan Beri Sinyal
Pengamat Korea Utara Benedict Rogers memperkirakan pemerintah Pyongyang akan menunjukkan bukti mengenai kondisi Kim jika rumor tersebut terus berkembang.
Baca Juga: Jeju Air Buka Kembali Rute Batam–Incheon Korea Selatan pada 23 Desember 2026
Berbicara kepada kanal YouTube The Sun, From The Newsroom, Rogers mengatakan kabar mengenai kesehatan Kim bukan pertama kalinya beredar. Ia juga menyoroti kondisi fisik pemimpin Korea Utara tersebut.
“Dia tidak terlihat baik-baik saja,” kata Rogers, seraya menyinggung berat badan Kim yang dinilainya berlebihan.
Menurut Rogers, kemunculan Kim dalam kegiatan publik atau pernyataan resmi pemerintah dapat menjadi petunjuk untuk menilai rumor yang beredar. Sebaliknya, jika Kim meninggal dunia, pemerintah Korea Utara diperkirakan akan menggelar upacara berkabung secara besar-besaran.
Rogers menggambarkan bahwa kematian pemimpin Korea Utara pada masa lalu diikuti luapan kesedihan publik yang terorganisasi. Hal itu antara lain terlihat dari kerumunan warga yang menangis di jalanan hingga pembaca berita yang menunjukkan emosi saat menyampaikan kabar kematian pemimpin mereka.
Hingga laporan tersebut disusun, belum ada laporan mengenai suasana berkabung seperti itu. Meski demikian, tidak adanya upacara berkabung bukanlah bukti bahwa Kim berada dalam kondisi sehat ataupun kritis.
Dengan belum adanya bukti yang dapat diverifikasi, klaim mengenai Kim Jong Un yang mengalami pendarahan otak, koma, atau dibawa ke Beijing masih sebatas rumor. Kondisi kesehatan pemimpin Korea Utara tersebut belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia dalam laporan tersebut. (*)
Editor : Yofi Yuhendri