Rudal Houthi Hujani Arab Saudi, Pasokan Minyak Dunia Terancam

JawaPos • Dipublikasikan Rabu, 28 Oktober 2026 | 14:31 WIB
Tangkapan layar dari rekaman video memperlihatkan sebuah rudal Houthi yang sedang diluncurkan. (AFP)
Tangkapan layar dari rekaman video memperlihatkan sebuah rudal Houthi yang sedang diluncurkan. (AFP)

batampos – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas. Kelompok Houthi di Yaman melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah fasilitas strategis Arab Saudi, mulai dari kilang minyak, pangkalan militer, hingga bandara. Eskalasi ini memicu kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak dunia dan jalur perdagangan internasional.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim pihaknya menyerang kilang minyak Ras Tanura menggunakan rudal balistik. Serangan tersebut disebut memicu kebakaran di kompleks kilang yang menjadi salah satu pusat pengolahan dan ekspor minyak terbesar Arab Saudi.

Namun, otoritas Arab Saudi belum mengonfirmasi secara langsung klaim serangan tersebut.

Bloomberg News, mengutip sumber yang mengetahui kejadian itu, melaporkan bahwa kebakaran di dekat terminal Ras Tanura telah berhasil dikendalikan.

Kilang Ras Tanura memiliki kapasitas pengolahan sekitar 550 ribu barel minyak per hari. Kompleks ini juga dilengkapi terminal pengapalan yang berperan penting dalam distribusi minyak Saudi ke pasar internasional.

Selain fasilitas energi, Houthi mengklaim menyerang sejumlah target militer dan infrastruktur strategis lainnya.

Saree menyebut serangan diarahkan ke dua pesawat angkut militer di Bandara Najran, pangkalan udara di Khamis Mushait, gedung Kementerian Pertahanan di Riyadh, serta Bandara Abha.

Meski belum seluruh klaim tersebut terkonfirmasi, otoritas pertahanan sipil Arab Saudi sempat mengeluarkan peringatan serangan udara di Riyadh pada Selasa (27/10).

Pertahanan Sipil Arab Saudi kemudian melaporkan bahwa puing-puing hasil pencegatan dua rudal balistik menyebabkan kerusakan pada sebuah bangunan, lokasi konstruksi, dan satu kendaraan.

Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman juga menyatakan berhasil mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang diluncurkan Houthi menuju Riyadh.

Jalur Perdagangan Dunia Terancam

Ketegangan tidak hanya terjadi di wilayah Arab Saudi. Pertempuran juga dilaporkan meningkat di sekitar Selat Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Houthi mengklaim berhasil memukul mundur pasukan yang disebut mendapat dukungan Arab Saudi ketika bergerak dari arah selatan menuju kawasan tersebut.

Sebelumnya, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dilaporkan berhasil merebut sejumlah wilayah pesisir dari penguasaan Houthi.

Stasiun televisi Al Masirah yang berafiliasi dengan Houthi juga melaporkan adanya serangan udara Arab Saudi di Kota Mocha, Yaman. Namun, laporan tersebut belum mendapat konfirmasi dari pihak Saudi.

Meningkatnya pertempuran di sekitar Bab el-Mandeb menimbulkan kekhawatiran baru terhadap keamanan pelayaran internasional.

Selat tersebut merupakan salah satu jalur penting perdagangan global, termasuk pengiriman minyak dan berbagai komoditas melalui Laut Merah menuju Terusan Suez.

Jika konflik semakin meluas, aktivitas pelayaran berisiko terganggu. Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan menekan distribusi energi ke pasar internasional.

Ekspor Minyak Saudi Jadi Sorotan

Serangan yang diklaim menyasar Ras Tanura turut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan ekspor minyak Arab Saudi.

Negara tersebut mengandalkan dua pelabuhan utama untuk distribusi minyak, yakni Ras Tanura di pesisir Teluk Arab dan Yanbu di kawasan Laut Merah.

Kedua fasilitas tersebut memiliki posisi strategis dalam menjaga kelancaran pasokan minyak ke berbagai negara.

Ras Tanura berada di kawasan Teluk yang terhubung dengan jalur pelayaran Selat Hormuz. Sementara itu, Yanbu menjadi pintu ekspor alternatif melalui Laut Merah.

Gangguan terhadap salah satu fasilitas tersebut berpotensi memengaruhi distribusi minyak, terutama jika serangan menyebabkan kerusakan infrastruktur atau penghentian operasional.

Meski demikian, dampak nyata terhadap produksi dan ekspor minyak Arab Saudi belum dapat dipastikan karena masih bergantung pada tingkat kerusakan fasilitas dan perkembangan situasi keamanan.

Eskalasi terbaru ini sekaligus memperburuk konflik berkepanjangan di Yaman.

Kelompok Houthi hingga kini masih menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah wilayah lainnya. Sementara itu, koalisi pimpinan Arab Saudi mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional.

Pertempuran yang kembali meningkat juga mengancam upaya perdamaian setelah gencatan senjata yang dimediasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 2022.

Di tengah ketegangan regional yang melibatkan Iran, serangan terhadap fasilitas strategis Arab Saudi dikhawatirkan semakin memperluas konflik di Timur Tengah. (*)

 

Editor : Jamil Qasim
Houthi arab saudi