batampos - Kawasan Konservasi Nasional Kepulauan Anambas mencatat prestasi nasional dengan meraih kategori emas dalam penilaian efektivitas pengelolaan kawasan konservasi sepanjang 2025. Capaian ini mencerminkan pengelolaan ekosistem laut yang dinilai efektif, berkelanjutan, serta didukung kolaborasi multipihak.
Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional (LKKPN) Pekanbaru menilai kondisi ekosistem laut Anambas relatif stabil, dengan tren pengelolaan yang terus membaik. Kesehatan ekosistem utama seperti terumbu karang, mangrove, dan padang lamun masih terjaga dengan baik.
Kepala LKKPN Pekanbaru, Rahmad Hidayat, mengatakan pengawasan kawasan konservasi juga semakin diperkuat melalui pelibatan aparat penegak hukum serta kelompok masyarakat pengawas.
“Sepanjang 2025, pengelolaan kawasan konservasi menunjukkan kemajuan nyata, baik dari sisi ekologi, pengawasan, maupun partisipasi masyarakat,” ujar Rahmad Hidayat, Senin (29/12).
Hasil penilaian tim nasional menunjukkan Kawasan Konservasi Kepulauan Anambas meraih skor 86,74 persen atau masuk kategori emas dengan status dikelola secara berkelanjutan. Skor tersebut meningkat 1,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Rahmad Hidayat, dibandingkan beberapa tahun lalu, kondisi ekosistem laut Anambas kini jauh lebih terkelola. Meski tekanan akibat faktor alam dan aktivitas manusia masih ada, kesadaran berbagai pihak untuk terlibat dalam pengelolaan kawasan terus meningkat.
“Kolaborasi yang semakin solid membuat pengelolaan kawasan konservasi terus bergerak menuju kondisi yang efektif dan berkelanjutan,” katanya.
Meski mencatat capaian positif, tantangan pengelolaan kawasan konservasi masih besar. Luas wilayah konservasi yang terdiri dari pulau-pulau terpencil membuat pengawasan membutuhkan dukungan sarana, sumber daya manusia, serta pendanaan yang berkelanjutan.
“Keterbatasan sarana, SDM, dan pendanaan masih menjadi tantangan utama. Namun, kami terus mendorong inovasi untuk menutup celah-celah pengelolaan tersebut,” ujarnya.
Friends of Anambas, Menyatukan Banyak Kepentingan
Dari keterbatasan tersebut lahir kolaborasi multipihak bertajuk Friends of Anambas. Skema ini dirancang untuk menyatukan peran pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (NGO), dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat.
Rahmad Hidayat menegaskan, pendekatan multipihak menjadi kunci karena pengelolaan kawasan konservasi tidak bisa dijalankan oleh satu pihak saja.
“Setiap pemangku kepentingan memiliki fungsi dan tujuan utama. Ketika disatukan dalam satu rencana pengelolaan, sumber daya, keahlian, dan pendanaan bisa saling melengkapi,” jelasnya.
Dalam skema ini, LKKPN berperan sebagai regulator dan koordinator. NGO dan yayasan menjalankan program lapangan serta pendampingan teknis, sektor swasta mendukung pembiayaan dan inovasi, perguruan tinggi melakukan pendataan serta validasi ilmiah, sementara masyarakat menjadi pelaksana langsung di lapangan.
Dari Rehabilitasi Karang hingga Ekowisata Penyu
Dampak kolaborasi mulai dirasakan secara nyata di lapangan. Rehabilitasi terumbu karang membantu pemulihan kawasan yang terdampak kenaikan suhu permukaan laut. Penanaman mangrove memperkuat perlindungan pesisir pulau-pulau kecil sekaligus menyediakan sumber pakan ikan.
Pendampingan masyarakat juga mendorong lahirnya nilai ekonomi baru. Warga kini terlibat dalam pengelolaan paket ekowisata, pengembangan produk turunan mangrove, pengelolaan sampah bernilai ekonomi, hingga menjadi pemandu wisata.
Salah satu contoh konkret adalah konservasi penyu. Ribuan sarang penyu direlokasi dan ratusan ribu telur berhasil diselamatkan. Rahmad Hidayat menegaskan, peran masyarakat lokal menjadi kunci utama menjaga siklus hidup penyu.
“Masyarakat adalah pihak yang setiap hari berada di lapangan. Mereka menjadi pengendali utama tekanan pengambilan telur penyu dan penjaga lokasi peneluran,” ujarnya.
Dampaknya, praktik pengambilan telur penyu ilegal menurun signifikan. Konservasi penyu kini dikembangkan sebagai wisata minat khusus berbasis edukasi. Saat ini, sebanyak 15 warga lokal memperoleh penghasilan rutin sebagai enumerator dan pemandu ekowisata penyu.
Sampah Laut dan Ketahanan Terumbu Karang
Dalam pengendalian sampah laut, kolaborasi multipihak berhasil mengangkat hampir lima ton sampah dari 11 lokasi di Anambas. Meski demikian, Rahmad Hidayat mengakui persoalan sampah belum sepenuhnya tuntas.
“Akar masalahnya masih pada pengelolaan sampah di darat, perilaku masyarakat, serta sampah kiriman dari laut lepas,” katanya.
Program sosialisasi, upcycling, dan small grant dinilai efektif mendorong perubahan perilaku masyarakat pesisir agar lebih peduli dan terlibat langsung dalam pengelolaan sampah.
Sementara itu, hasil pemantauan menunjukkan tidak adanya pemutihan karang massal di Anambas. Posisi strategis dengan arus laut yang terus bergerak serta minimnya tekanan aktivitas manusia di daratan menjadi faktor utama ketahanan terumbu karang.
Namun, ancaman biota pemangsa karang seperti Drupella sp. mulai terdeteksi. Untuk mengantisipasinya, LKKPN bersama mitra dan kelompok masyarakat melakukan pemantauan rutin serta menyiapkan langkah respons cepat jika populasinya melebihi batas normal.
Arah Lima Tahun ke Depan
Ke depan, LKKPN Pekanbaru menargetkan penguatan efektivitas kawasan konservasi, ekosistem yang semakin sehat, serta masyarakat yang semakin merasakan manfaat ekonomi dari konservasi.
Rahmad Hidayat juga menaruh harapan besar pada generasi muda Anambas.
“Generasi muda adalah agen perubahan. Edukasi, inovasi, teknologi, dan kampanye lingkungan akan menjadi modal kuat menjaga laut Anambas di tengah tekanan pembangunan,” ujarnya.
Ia menegaskan, menjaga Kawasan Konservasi Nasional Kepulauan Anambas merupakan tanggung jawab bersama.
“Menguatkan kolaborasi, terus bergerak, dan menciptakan dampak nyata adalah kunci agar laut Anambas tetap lestari serta memberi manfaat jangka panjang bagi semua,” ucap Rahmad Hidayat. (*)
Editor : Fiska Juanda