Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Dirayakan di Penghujung Ramadan, Tradisi 7 Likur jadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Kepri

Yusnadi BP • Selasa, 17 Maret 2026 | 19:30 WIB

Melestarikan tradisi 7 Likur, masyarakat Sei Ladi Tanjungpinang menyusun lampu cangkok menyerupai kubah masjid. F. Yusnadi Nazar/Batam Pos
Melestarikan tradisi 7 Likur, masyarakat Sei Ladi Tanjungpinang menyusun lampu cangkok menyerupai kubah masjid. F. Yusnadi Nazar/Batam Pos

Batampos - Tradisi tempo dulu itu adalah tradisi 7 Likur. Sebuah kebiasaan turun-temurun, menandai datangnya malam-malam terakhir yang istimewa di bulan Ramadan. Sebuah kebiasaan masyarakat Melayu yang berharap berkah dan bertemu kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Tradisi 7 Likur ini tidak hanya sekadar menyalakan lampu cangkok. Bagi masyarakat Melayu, cahaya yang memancar dari lampu cangkok, memiliki makna simbolik.

Mempunyai makna spiritual mendalam yaitu sebuah harapan, doa serta ungkapan rasa syukur kepada Allah atas keberkahan Ramadan, sekaligus menyambut hari kemenangan.

Peneliti sejarah dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dedi Arman, menjelaskan tradisi 7 Likur merupakan khazanah budaya Melayu.

Tradisi 7 Likur di bulan Ramadan ini telah hidup lama dalam tradisi masyarakat Melayu di Kepri termasuk Tanjungpinang, Bintan, Lingga dan Karimun.

Menurut Dedi, tradisi 7 Likur dan Pintu Gerbang Lingga kini telah mendapat pengakuan resmi sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia. Penetapan itu berdasarkan Surat Keputusan No SK: 362/M/2019 Tanggal SK 2019. Sementara lampu cangkok, menjadi elemen dari tradisi 7 Likur.

Penetapan ini menegaskan, tradisi 7 Likur memiliki nilai budaya, sejarah dan spiritual yang penting bagi identitas masyarakat Melayu di Kepri.

“Yang diakui sebagai WBTb adalah tradisi 7 Likur. Lampu cangkok menjadi bagian yang memperindah dan menghidupkan perayaan itu,” jelasnya, Senin (16/3/2026).

Dede menjelaskan, cahaya lampu cangkok yang dinyalakan pada hari-hari menjelang akhir bulan Ramadan, bukan sekadar dekorasi kampung. Melainkan sebuah simbol spiritual yang merefleksikan harapan dan doa masyarakat terhadap datangnya malam penuh kemuliaan.

“Tradisi 7 Likur tidak hanya tentang lampu cangkok, tetapi tentang memaknai malam istimewa di ujung Ramadan,” jelas Dedi.

Dalam catatan khazanah budaya Melayu, masyarakat Kepri sejak lama memiliki kebiasaan menerangi lingkungan kampung pada malam Ramadan. Lampu-lampu cangkok dipasang di depan rumah, di sepanjang jalan kampung, gang-gang kecil, hingga lorong-lorong permukiman masyarakat.

Bahan lampu sederhana berupa kaleng bekas atau wadah logam kecil yang diisi minyak tanah dan sumbu, lalu digantung atau disusun membentuk pola tertentu. Seiring waktu, kreativitas masyarakat berkembang. Lampu-lampu itu tidak hanya disusun berderet, tetapi juga dirangkai menjadi berbagai bentuk.

Baca Juga: Soft World Tour 2026, LANY Sapa Penggemar di Asia dan Australia

Rangkaian lampu-lampu cangkok disusun dengan berbagai bentuk artistik seperti kubah masjid, bintang hingga berbentuk kaligrafi bernuansa Islami.

Di beberapa kampung di Kepri, masyarakat bahkan membangun gerbang besar dari rangkaian lampu cangkok sebagai simbol kemeriahan di penghujung bulan Ramadan.

Nuansa cahaya lampu cangkok yang memantul di malam hari, menciptakan atmosfer religius yang khas, seolah menghidupkan kampung dengan kehangatan spiritual.

*Menjaga Tradisi di Tengah Modernitas

Bagi masyarakat Melayu, 7 Likur juga menjadi bentuk ekspresi kegembiraan dalam menyambut keberkahan bulan Ramadan dan Idulfitri.

Cahaya lampu cangkok yang menerangi kampung, seakan menjadi sebuah simbol rasa syukur sekaligus kebersamaan antar masyarakat.

Kegiatan memasang lampu cangkok biasanya dilakukan secara gotong royong. Anak-anak, remaja, hingga orang tua terlibat. Bersama-sama membuat dan menyiapkan lampu cangkok, menyusun rangka dan menyalakan sumbu saat malam tiba.

Momentum sakral ini bukan hanya meramaikan kampung, tetapi juga mempererat silaturahmi dan hubungan sosial antar masyarakat Melayu.

“Ini adalah wujud suka cita masyarakat menyambut keberkahan Ramadan dan Idulfitri, sekaligus ungkapan syukur atas keberkahan yang diberikan,” kata Dedi.

Di tengah perubahan zaman dan hadirnya teknologi pencahayaan modern, tradisi lampu cangkok tetap bertahan di banyak kampung di Kepri. Bahkan di sejumlah daerah, perayaan tradisi 7 Likur kini dikemas dalam bentuk festival budaya yang melibatkan masyarakat luas.

Tradisi ini tidak hanya menyimpan nilai spiritual, tetapi menjadi sarana edukasi generasi muda untuk mengenal akar budaya.

“Tradisi 7 Likur ini telah menghiasi kehidupan masyarakat sejak lama. Karena itu, penting untuk melestarikannya sebagai bagian dari identitas budaya Melayu,” tutup Dedi. (*)

Editor : Chahaya Simanjuntak
#Malam Tujuh Likur #kepri #tradisi melayu