Batampos - Anggota DPRD Kepri dapil Tanjungpinang, Rudy Chua mengingatkan, hengkangnya maskapai Garuda Indonesia dari pelayanan penerbangan Bandara Raja Haji Fisabilillah (RHF) berpotensi memengaruhi kepercayaan investor.
Chua mengatakan, daerah yang dilayani oleh Garuda Indonesia merupakan daerah yang ekonominya maju. Sehingga, berhentinya layanan penerbangan ini akan mengubah sisi pandang bagi investor.
"Ini menyangkut status Garuda Indonesia sebagai penerbangan utama di Indonesia yang selama ini dikaitkan dengan status kota tersebut," kata Rudy, Rabu (21/1/2026).
Ia mengakui, mendapatkan kabar karena kondisi minimnya jumlah penumpang yang menggunakan maskapai itu.
Selain itu, selama ini penumpang yang terbang dengan Garuda Indonesia mayoritas merupakan ASN dan Pebisnis saja. Terlebih, saat ini anggaran perjalanan dinas ke luar daerah dipangkas.
"Ini juga antisipasi pengurangan anggaran perjalanan dinas. Otomasi ya perjalanan atau penerbangan menggunakan Garuda juga berkurang," tambahnya.
Ia mengakui, Gubernur Kepri juga sudah menyurati Direktur Utama Maskapai plat merah tersebut. Namun, belum menerima jawaban resmi dari pihak Garuda Indonesia.
"Gubernur juga meminta ditinjau kembali. Sejauh ini belum ada respon, nanti kita lihat apa responnya," jelasnya.
General Manager Bandara RHF Tanjungpinang, Mohamad Setiadi Dermawan Wakan mengatakan, pihaknya telah menerima informasi tersebut. Namun, informasi yang diterima hanya sekedar bersifat lisan. "Infonya baru kidan, belum tertulis," ujarnya.
Namun, sejauh ini ia belum mengetahui penyebab maskapai Garuda Indonesia berniat berhenti melayani penerbangan di Bandara satu-satunya di Provinsi Kepri itu. Terlebih, pemberitahuan itu belum disampaikan secara tertulis oleh pihak maskapai.
Berdasarkan informasi yang diperoleh Batam Pos, last flight atau penerbangan terakhir Garuda Indonesia dari Bandara RHF menuju Jakarta dijadwalkan dilakukan pada 9 Febuari 2026 mendatang. Maskapai Garuda akan digantikan dengan maskapai Citilink. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak