batampos – Popularitas mobil listrik di Indonesia terus meningkat. Selain dinilai lebih hemat dan ramah lingkungan, kendaraan ini juga dilengkapi teknologi modern yang semakin canggih.
Namun, di balik kemudahan tersebut, pemahaman terhadap sistem keselamatan masih menjadi tantangan bagi sebagian pengguna. Padahal, karakter mobil listrik berbeda dengan kendaraan konvensional, sehingga membutuhkan adaptasi dalam berkendara.
Salah satu fitur utama yang kini banyak digunakan adalah Advanced Driver Assistance System (ADAS). Teknologi ini memanfaatkan sensor, radar, dan kamera untuk membantu pengemudi menghindari potensi kecelakaan.
Baca Juga: Potongan Ojol 8 Persen Dinilai Berisiko, Asosiasi Minta Dikaji Ulang
Fitur seperti Adaptive Cruise Control (ACC), Automatic Emergency Braking (AEB), hingga Blind Spot Monitoring (BSM) memungkinkan kendaraan menjaga jarak aman dan melakukan pengereman otomatis saat diperlukan.
Selain itu, mobil listrik juga memiliki sistem regenerative braking yang membuat kendaraan melambat saat pedal gas dilepas. Bagi pengguna baru, efek ini kerap mengejutkan karena mobil bisa mengurangi kecepatan tanpa menginjak rem.
Karena itu, pengemudi perlu menyesuaikan gaya berkendara agar mampu memperkirakan jarak pengereman dengan tepat.
Di sisi lain, komponen vital mobil listrik terletak pada baterai yang dilindungi oleh Battery Management System (BMS). Sistem ini berfungsi mengatur suhu, arus listrik, serta mencegah overheating dan korsleting.
Baca Juga: MotoGP Hapus Wildcard Mulai 2027, Semua Pabrikan Kena Aturan
Untuk menjaga keamanan, pengguna disarankan menggunakan fasilitas pengisian daya resmi dan menghindari modifikasi kelistrikan.
Fitur lain seperti kamera 360 derajat dan sensor parkir juga berperan penting dalam mengurangi risiko blind spot, terutama saat manuver di area sempit.
Karakter torsi instan pada mobil listrik juga menuntut kontrol stabilitas yang baik. Karena itu, fitur seperti Electronic Stability Control (ESC) dan Traction Control System (TCS) menjadi krusial untuk menjaga traksi kendaraan, terutama di jalan licin.
Berbeda dengan mobil konvensional, sistem mobil listrik sangat bergantung pada perangkat lunak. Produsen biasanya rutin merilis pembaruan software untuk meningkatkan performa dan keselamatan. Karena itu, pemilik kendaraan disarankan melakukan update secara berkala.
Sementara itu, insiden taksi listrik yang mogok di perlintasan rel di kawasan Bekasi Timur beberapa waktu lalu menjadi perhatian publik. Peristiwa tersebut sempat memunculkan spekulasi terkait gangguan elektromagnetik.
Baca Juga: Inovasi Baru Adidas, Jersey Timnas untuk Hewan Peliharaan Sambut World Cup 2026
Namun, pakar otomotif dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai kemungkinan tersebut sangat kecil.
Menurutnya, sistem kendaraan modern telah lolos uji kompatibilitas elektromagnetik sesuai standar internasional seperti ISO 11452 dan CISPR 25, sehingga tetap aman dalam berbagai kondisi.
Kasus tersebut menjadi pengingat penting bagi pengguna untuk memahami fitur keselamatan mobil listrik. Dengan pemahaman yang baik, risiko kecelakaan dapat diminimalkan dan pengalaman berkendara menjadi lebih aman. (*)
Editor : M Tahang