batampos - Tekanan hidup modern disebut menjadi salah satu pemicu meningkatnya fenomena hikikomori di berbagai negara. Kondisi ini terjadi ketika seseorang memilih menarik diri dari kehidupan sosial dan menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah dalam jangka panjang.
Istilah ini berasal dari Jepang. Kata hiki yang berarti menarik diri dan komoru yang berarti bersembunyi atau tinggal di dalam. Fenomena hikikomori pertama kali populer pada 1990-an setelah diperkenalkan oleh psikiater Jepang, Tamaki Saito.
Hikikomori awalnya dianggap hanya terjadi di Jepang, tetapi penelitian terbaru menunjukkan kasus serupa juga ditemukan di banyak negara lain. Hikikomori dipandang sebagai masalah kesehatan mental dan sosial global.
Kondisi tersebut sering dikaitkan dengan tekanan akademik, kecemasan sosial, depresi, trauma, bullying, serta tekanan budaya dan ekonomi.
Seseorang disebut hikikomori jika mengalami isolasi sosial ekstrem, jarang keluar rumah, tidak bekerja atau bersekolah secara normal, dan kondisi tersebut berlangsung minimal enam bulan.
Baca Juga: 10 Cara Ibu Baru Kembali Peduli Diri Sendiri Setelah Melahirkan
Beberapa kasus bahkan berlangsung bertahun - tahun hingga penderitanya kehilangan kemampuan bersosialisasi secara normal.
"1,46 juta orang mengalami hikikomori pada 2022," tulis laporan pemerintah Jepang, dikutip dari Springer, Senin (11/5).
Fenomena ini tidak lagi hanya dialami remaja laki - laki, tetapi perempuan dan kelompok usia lebih tua. Sejumlah ahli juga menyoroti pengaruh internet dan media digital terhadap meningkatnya isolasi sosial.
Penelitian lain yang terbit pada 2025 menemukan bahwa hikikomori kini muncul di Korea Selatan, Amerika Serikat, Prancis, Italia, India, dan Tailan. Meta-analisis terbaru terhadap 19 penelitian internasional bahkan memperkirakan prevalensi hikikomori global mencapai sekitar 8 persen.
Fenomena hikikomori memicu kekhawatiran baru karena banyak penderita hidup bergantung pada orang tua yang sudah lanjut usia.(*)
Editor : Juliana Belence