batampos - Banyak orang mengira makanan yang masih terlihat segar otomatis aman untuk dikonsumsi. Padahal, sejumlah jenis makanan dapat mengalami penurunan kualitas bahkan sebelum menunjukkan tanda-tanda kerusakan yang jelas, seperti bau tidak sedap atau munculnya jamur.
Paparan udara, suhu ruang yang terlalu lama, hingga cara penyimpanan yang kurang tepat dapat mempercepat pertumbuhan bakteri dan menurunkan kualitas makanan. Dalam beberapa kasus, makanan bahkan sudah tidak layak dikonsumsi meski tampilan luarnya masih terlihat normal.
Selain perubahan warna dan aroma, tekstur yang berubah, rasa yang berbeda, serta penurunan kandungan nutrisi juga bisa menjadi indikator bahwa makanan mulai mengalami kerusakan.
Dikutip dari Indiatimes, berikut enam jenis makanan yang lebih cepat basi dibandingkan perkiraan banyak orang.
1. Buah yang Sudah Dipotong
Buah utuh seperti apel dapat bertahan selama beberapa hari pada suhu ruang. Namun, kondisinya berubah setelah dipotong.
Saat kulit pelindung buah terbuka, bagian dalamnya langsung terpapar oksigen, kehilangan kelembapan, serta lebih mudah terkontaminasi bakteri dari tangan, pisau, atau talenan.
Akibatnya, buah potong seperti melon, mangga, nanas, maupun apel lebih cepat berubah warna, berlendir, atau memiliki rasa asam. Agar tetap aman dikonsumsi, simpan buah potong di dalam wadah tertutup dan letakkan di lemari pendingin.
2. Nasi Matang
Nasi matang menjadi salah satu makanan yang paling sering dianggap aman dibiarkan di meja makan selama berjam-jam. Padahal, kebiasaan tersebut dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri yang mampu bertahan setelah proses memasak.
Jika nasi dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang, bakteri dapat berkembang biak dan menghasilkan zat yang berpotensi menyebabkan keracunan makanan.
Sebaiknya nasi yang tidak langsung dikonsumsi segera didinginkan dan disimpan di dalam kulkas, kemudian dipanaskan kembali hingga benar-benar panas sebelum disantap.
3. Pasta Matang
Pasta yang telah dimasak juga memiliki daya simpan yang lebih pendek dibandingkan bahan mentahnya. Risiko pembusukan semakin tinggi apabila pasta dicampur dengan saus berbahan susu, krim, atau daging.
Untuk menjaga kualitas dan keamanannya, segera simpan sisa pasta di dalam wadah kedap udara dan masukkan ke kulkas setelah suhu makanan mulai turun. Hindari membiarkannya berada di suhu ruang selama berjam-jam.
4. Sayuran Hijau
Sayuran hijau seperti bayam, selada, dan kangkung mengandung kadar air yang tinggi sehingga lebih mudah mengalami pembusukan.
Jika dicuci lalu disimpan dalam kondisi masih basah, kelembapan di dalam wadah dapat mempercepat munculnya lendir, bau tidak sedap, dan perubahan tekstur.
Agar lebih awet, simpan sayuran dalam kondisi kering atau gunakan tisu dapur untuk membantu menyerap kelembapan berlebih di dalam wadah penyimpanan.
Baca Juga: Data Center Dinilai Belum Mampu Jadi Solusi Pengangguran di Batam
5. Telur
Telur dikenal memiliki masa simpan yang cukup panjang, tetapi kualitasnya sangat bergantung pada cara penyimpanan.
Telur yang sudah dimasak memiliki daya tahan lebih singkat dibandingkan telur mentah. Selain itu, telur yang retak lebih rentan terhadap kontaminasi bakteri dan dapat menyerap aroma dari makanan lain di dalam kulkas.
Pastikan telur disimpan pada suhu dingin yang stabil dan hindari mengonsumsi telur yang sudah melewati masa simpan atau menunjukkan perubahan aroma maupun tekstur.
6. Daging Olahan
Daging olahan seperti sosis, ham, dan daging asap memang dikemas agar tahan lebih lama. Namun, setelah kemasan dibuka, daya tahannya akan menurun secara signifikan.
Paparan udara, kelembapan, serta proses mengambil daging berulang kali dari kemasan dapat mempercepat pertumbuhan bakteri.
Simpan daging olahan dalam wadah tertutup rapat di dalam kulkas dan habiskan sesuai batas waktu yang dianjurkan setelah kemasan dibuka.
Tips Menyimpan Makanan agar Tidak Cepat Basi
Untuk menjaga keamanan pangan, hindari membiarkan makanan matang berada pada suhu ruang terlalu lama. Simpan makanan dalam wadah bersih dan tertutup, segera masukkan ke lemari pendingin setelah suhu mulai turun, serta perhatikan tanggal kedaluwarsa maupun perubahan tekstur, warna, dan aroma sebelum dikonsumsi.
Dengan penyimpanan yang tepat, kualitas makanan dapat bertahan lebih lama sekaligus mengurangi risiko keracunan makanan akibat pertumbuhan bakteri yang tidak terlihat secara kasat mata. (*)
Editor : Putut Ariyo