batampos - Tulisan yang dibuat dengan ChatGPT atau kecerdasan buatan (AI) semakin mudah dikenali. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan frasa tertentu yang muncul berulang dan membuat tulisan terasa terlalu rapi, formulaik, serta kurang natural.
Mendeteksi teks AI sebenarnya tidak selalu membutuhkan alat khusus. Pembaca bisa memperhatikan pola bahasa, pilihan kata, struktur kalimat, hingga cara sebuah tulisan membuka dan menutup pembahasan.
Meski demikian, kemunculan satu atau beberapa frasa berikut tidak otomatis membuktikan bahwa sebuah tulisan dibuat AI. Frasa tersebut juga dapat digunakan oleh manusia. Namun, jika muncul berulang bersama pola bahasa yang sangat formulaik, hal itu dapat menjadi salah satu petunjuk.
Dilansir dari YourTango pada Senin (21/9), berikut tujuh frasa yang kerap diasosiasikan dengan tulisan ChatGPT dan dapat menjadi petunjuk awal untuk mengenali teks AI.
1. "Dalam lanskap yang terus berkembang"
Frasa "dalam lanskap yang terus berkembang" kerap digunakan sebagai pembuka untuk berbagai topik. Kalimat tersebut memberikan kesan bahwa pembahasan yang akan disampaikan bersifat mendalam dan relevan dengan perkembangan zaman.
Namun, dalam banyak konteks, frasa ini tidak memberikan informasi spesifik. Penulis sebenarnya bisa langsung masuk ke persoalan utama tanpa menggunakan pembuka yang abstrak.
Penggunaan frasa tersebut secara berulang dapat membuat tulisan terasa generik karena tidak memberikan konteks konkret kepada pembaca.
2. "Sangat penting untuk dicatat bahwa"
Frasa "sangat penting untuk dicatat bahwa" sering digunakan sebelum menyampaikan informasi tertentu. Masalahnya, informasi setelah frasa tersebut belum tentu merupakan sesuatu yang benar-benar perlu ditekankan.
Dalam penulisan yang lebih ringkas, bagian tersebut sering kali dapat langsung disampaikan tanpa kalimat pengantar.
Jika frasa semacam ini muncul berkali-kali dalam satu artikel, tulisan dapat terasa bertele-tele dan terlalu formal.
3. "Mulai dari... hingga..."
Pola "mulai dari... hingga..." juga sering muncul dalam tulisan yang dihasilkan AI. Struktur tersebut digunakan untuk menunjukkan cakupan yang luas dengan menyebut dua contoh atau titik ekstrem.
Contohnya, sebuah tulisan dapat mengatakan "mulai dari bisnis kecil hingga perusahaan multinasional" untuk menggambarkan keseluruhan kelompok.
Pola tersebut sebenarnya juga lazim digunakan manusia. Namun, penggunaan yang terlalu sering dan berulang dapat menjadi salah satu ciri gaya penulisan yang formulaik.
4. "Pada akhirnya" atau "Pada intinya"
Frasa transisi seperti "pada akhirnya" dan "pada intinya" digunakan untuk mengarahkan pembaca menuju kesimpulan atau gagasan utama.
Dalam tulisan AI, frasa semacam ini terkadang muncul berulang, bahkan ketika konteksnya belum benar-benar memasuki bagian kesimpulan.
Akibatnya, struktur tulisan terasa seperti mengikuti pola yang sudah ditentukan, bukan mengalir secara alami dari satu gagasan ke gagasan berikutnya.
5. "Dengan semakin meningkatnya..."
" Dengan semakin meningkatnya..." merupakan pola pembuka lain yang cukup mudah ditemukan dalam tulisan AI.
Frasa tersebut biasanya digunakan untuk menghubungkan suatu topik dengan perubahan atau perkembangan yang dianggap sedang berlangsung. Misalnya, peningkatan penggunaan teknologi, perubahan perilaku konsumen, atau perkembangan AI.
Persoalannya, frasa tersebut dapat digunakan tanpa menjelaskan data atau bukti yang menunjukkan adanya peningkatan. Karena itu, pembaca tetap perlu memeriksa informasi setelah kalimat pembuka tersebut.
6. "Tidak dapat disangkal bahwa"
Frasa "tidak dapat disangkal bahwa" memberikan kesan seolah-olah pernyataan setelahnya merupakan fakta yang mutlak dan tidak mungkin diperdebatkan.
Padahal, tidak semua pernyataan memiliki tingkat kepastian yang sama. Untuk topik yang masih memiliki perbedaan pandangan atau membutuhkan konteks, klaim absolut justru dapat membuat argumen terdengar kurang bernuansa.
Penggunaan frasa ini secara berulang menjadi salah satu pola bahasa yang dapat membuat tulisan terasa seperti keluaran AI.
7. "Dengan mempertimbangkan semua aspek di atas"
Frasa tersebut biasanya digunakan menjelang akhir tulisan sebagai pengantar kesimpulan. Struktur ini memberikan sinyal yang sangat jelas bahwa penulis akan merangkum pembahasan sebelumnya.
Dalam tulisan yang terlalu formulaik, frasa semacam itu dapat muncul meskipun kesimpulan sebenarnya bisa disampaikan secara langsung.
Penulis manusia biasanya memiliki variasi lebih besar dalam menyusun penutup. Karena itu, penggunaan pola penutup yang sama berulang kali dapat menjadi salah satu petunjuk ketika pembaca mencoba mengenali teks yang dibuat AI.
Jangan hanya mengandalkan frasa
Kemunculan frasa khas tersebut sebaiknya tidak dijadikan satu-satunya metode untuk menentukan apakah sebuah tulisan dibuat dengan AI. Manusia juga bisa menggunakan ungkapan yang sama, sementara AI dapat menghasilkan tulisan tanpa menggunakan frasa-frasa tersebut.
Karena itu, cara mendeteksi teks AI yang lebih masuk akal adalah dengan melihat keseluruhan pola tulisan, seperti pengulangan struktur kalimat, penggunaan bahasa yang terlalu generik, transisi yang seragam, minimnya detail spesifik, serta klaim yang tidak disertai sumber atau bukti.
Dengan kata lain, bukan satu frasa yang membuat sebuah tulisan terlihat seperti buatan AI, melainkan kombinasi pola bahasa dan cara penyampaian yang terasa terlalu formulaik. (*)
Editor : Putut Ariyo