Batampos - Informasi mengenai diet dan penurunan berat badan tersebar luas di era digital saat ini. Sayangnya, tidak semua informasinya akurat. Banyak mitos beredar yang justru dapat menghambat usaha seseorang untuk hidup sehat.
Baca Juga: SPMB SMP Jalur Domisili Batam Dibuka Hari Ini, Siapkan Alamat dan KK
Tidak sedikit para konten kreator membagikan video atau postingan mengenai mitos dan fakta mengenai diet. Mari melihat mitos versus fakta tentang diet dan penurunan berat badan dari para pakar:
- Mitos: Makan malam bikin gemuk
Faktanya, waktu makan bukan penentu utama kenaikan berat badan. Utamanya, kebutuhan kalori harian dan komposisi yang masuklah yang membuat seseorang bisa gemuk atau kurus.
Studi dari Obesity Society menyebutkan, makan malam tidak menyebabkan kenaikan berat badan jika kalori total tetap dalam batas kebutuhan harian. Namun, makan malam berlebih sering terjadi karena kebiasaan ngemil malam hari yang tinggi kalori.
- Mitos: Diet rendah karbohidrat adalah satu-satunya cara menurunkan berat badan
Faktanya, diet rendah karbohidrat itu efektif, tetapi bukan satu-satunya cara.
Pakar dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menyebutkan, diet rendah karbohidrat maupun rendah lemak bisa efektif jika dilakukan dengan konsisten dan disesuaikan dengan kebutuhan individu. Kualitas makanan lebih penting daripada jenis diet.
- Mitos: Lemak harus dihindari untuk menurunkan berat badan
Faktanya, lemak sehat penting untuk tubuh dan bisa membantu proses penurunan berat badan.
Lemak tak jenuh yang ditemukan dalam alpukat, kacang-kacangan, dan minyak zaitun mendukung metabolisme dan menjaga rasa kenyang lebih lama. Menghindari semua jenis lemak justru bisa menyebabkan kekurangan nutrisi.
- Mitos: Olahraga cukup untuk menurunkan berat badan tanpa mengatur pola makan
Tidak benar. Faktanya, diet dan olahraga harus sejalan. Saat Anda diet makanan, olahraga harus diadakan rutin. Bukan hanya dapat berat badan ideal tapi juga tubuh yang sehat.
Penelitian menunjukkan, kombinasi antara pola makan sehat dan aktivitas fisik jauh lebih efektif dalam menurunkan berat badan dibanding hanya salah satu. Olahraga penting, tetapi tidak bisa menggantikan peran kalori defisit dari makanan.
- Mitos: Semua kalori sama
Kalori dari makanan berbeda punya efek berbeda terhadap tubuh. Kalori dari protein, lemak, dan karbohidrat diproses tubuh secara berbeda. Misalnya, protein memiliki efek termogenik lebih tinggi yang membantu membakar lebih banyak kalori saat dicerna. Selain itu, makanan olahan tinggi gula bisa menyebabkan lonjakan insulin yang memicu rasa lapar.
Menurunkan berat badan bukan soal mengikuti tren diet terbaru, melainkan memahami tubuh dan membangun kebiasaan makan sehat berdasarkan pernyataan para pakar terkait dan sudah dibuktikan kebenarannya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak