Pertanyaan yang sering muncul adalah: apakah makaroni termasuk makanan yang sehat? Jawabannya: bisa iya, bisa juga tidak — tergantung jenis dan cara pengolahannya.
Simak penjelasan para ahli gizi berikut ini!
Apa Itu Makaroni?
Makaroni adalah sejenis pasta kering berbentuk kecil dan melengkung, terbuat dari tepung terigu atau semolina (tepung dari gandum durum). Makaroni banyak digunakan dalam berbagai hidangan, dari makaroni goreng, makaroni schotel, hingga makaroni bumbu pedas ala camilan kekinian.
Kapan Makaroni Bisa Dibilang Sehat?
Menurut sejumlah ahli gizi, makaroni dapat menjadi bagian dari pola makan sehat jika memenuhi kriteria berikut:
1. Terbuat dari Gandum Utuh (Whole Wheat)
Makaroni dari gandum utuh mengandung lebih banyak serat, vitamin B, zat besi, dan antioksidan alami. Ini membantu pencernaan, menjaga kadar gula darah stabil, dan membuat kenyang lebih lama.
2. Dikonsumsi dalam Porsi Wajar
Makaroni tetap mengandung karbohidrat. Mengonsumsinya berlebihan — terutama dalam bentuk camilan goreng atau dengan saus tinggi lemak — bisa memicu penambahan berat badan.
3. Diolah dengan Cara Sehat
Cara masak sangat berpengaruh. Makaroni yang direbus lalu dipadukan dengan sayur, protein tanpa lemak, dan sedikit minyak sehat akan jauh lebih baik daripada makaroni goreng kering atau bersaus keju berlebihan.
4. Tanpa Bahan Tambahan Tinggi Garam atau MSG
Makaroni kemasan yang dijual sebagai camilan sering kali mengandung garam dan penyedap buatan dalam jumlah tinggi. Ini bisa membahayakan kesehatan jika dikonsumsi terlalu sering.
Kapan Makaroni Jadi Kurang Sehat?
Ahli gizi juga mengingatkan bahwa makaroni bisa menjadi “jebakan” jika:
- Terlalu sering dikonsumsi dalam bentuk gorengan pedas, yang tinggi kalori dan lemak jenuh.
- Mengandung banyak saus keju, krim, atau daging olahan yang tinggi natrium dan lemak trans.
- Dikonsumsi berlebihan tanpa keseimbangan gizi lain seperti sayur dan protein.
Kata Ahli Gizi: Moderasi adalah Kunci
“Makaroni bisa sehat bila dibuat dari bahan berkualitas, tidak digoreng, dan dikombinasikan dengan sumber protein serta sayuran,”
ujar Dr. Rini Purnamasari, M.Gizi, ahli gizi klinis.
Ia menambahkan, makaroni dari gandum utuh lebih disarankan bagi penderita diabetes, orang yang sedang diet, atau yang ingin menjaga kestabilan energi sepanjang hari.
Jadi, apakah makaroni sehat? Jawabannya: ya, jika kamu memilih jenis yang tepat dan mengolahnya dengan cara yang sehat. Makaroni bisa menjadi makanan bergizi, mengenyangkan, dan fleksibel—selama dikonsumsi secara seimbang dan tidak berlebihan. (*)
Editor : Ichwanul Fazmi