batampos - Kentut adalah hal alami yang dilakukan setiap orang, tetapi tak jarang aromanya membuat orang di sekitar menutup hidung.
Kentut atau flatus merupakan hasil dari penumpukan gas di saluran pencernaan.
Gas ini terbentuk karena udara yang tertelan saat makan atau minum, proses fermentasi makanan oleh bakteri di usus besar, dan reaksi kimia alami dalam tubuh saat mencerna protein, lemak, dan karbohidrat kompleks.
"Rata - rata manusia bisa kentut 10 hingga 20 kali per hari. Sebagian besar gas yang keluar sebenarnya tidak berbau," tulis Cleveland Clinic, dikutip dari Cleveland, Rabu (8/10).
Penyebab Kentut Bau
Bau khas pada kentut terutama disebabkan oleh senyawa sulfur. Beberapa senyawa kimia yang berperan, yaitu:
1. Hidrogen sulfida (H₂S), memberi aroma seperti telur busuk.
2. Mentanthiol (CH₃SH), berbau seperti kubis busuk.
3. Dimetil sulfida (CH₃SCH₃), memiliki bau tajam dan tidak sedap.
Kentut mengandung lebih banyak senyawa sulfur muncul akibat makanan tinggi protein hewani seperti daging merah, telur, dan produk susu. Kentut bau tidak menandakan masalah serius.
Namun, jika disertai gejala seperti perut kembung berlebihan, nyeri, atau perubahan pola buang air besar bisa menjadi tanda adanya intoleransi makanan (laktosa atau gluten), sindrom iritasi usus, dan infeksi bakteri di saluran pencernaan.
Bau yang timbul bukan hal memalukan, melainkan hasil kerja bakteri usus dalam mencerna makanan kompleks. Namun, bila aroma dan frekuensi berubah, segera konsultasi ke dokter.(*)
Editor : Juliana Belence