Batampos - Penyakit parkinson adalah gangguan neurodegeneratif yang menyerang sel saraf. Penyakit ini adalah penyakit progresif karena menyerang sel saraf penghasil dopamin di otak, khususnya di substantia nigra.
Ketika tubuh manusia kekurangan dopamin, dapat menyebabkan gangguan motorik seperti tremor, otot kaku, bradikinesia, pola gerak seperti langkah menjadi pendek, meneteskan air liur tanpa sebab, bahkan dapat mempengaruhi ekspresi wajah dan keseimbangan tubuh.
Menurut World Health Organization (WHO), kondisi ini dapat memengaruhi gerakan, tidur, kesehatan mental, dan menyebabkan disabilitas yang signifikan seiring waktu berjalan.
Baca Juga: 2026, Pegawai Pemkab Bintan harus Siap Siap, Ini Akar Masalahnya
Gejala penyakit Parkinson terbagi menjadi dua kelompok utama, yakni motorik (gerakan) dan non-motorik
Gejala motorik utama antara lain:
- Tremor saat istirahat (gemetar di tangan, jari, dagu) yang sering muncul di sisi tubuh satu sisi terlebih dahulu.
- Kekakuan atau stifness otot, yang bisa menyulitkan pergerakan.
- Bradikinesia atau gerakan melambat, dimana tubuh, lengan, kaki bergerak lebih lambat dari keadaan normal.
- Gangguan keseimbangan dan postur tubuh, yang berisiko menimbulkan jatuh.
Sementara, gejala non-motorik yang sering terabaikan, yakni:
- Penurunan indra penciuman (anosmia) sebelum gejala gerakan muncul.
- Gangguan tidur (misalnya perilaku abnormal saat tidur REM).
- Gangguan mood seperti depresi, kecemasan, apatis.
Masalah otonom seperti perubahan tekanan darah ketika berdiri, konstipasi kronis, masalah porsi menelan.
Mengingat gejala ini mirip seperti kondisi penyakit lain, diagnosis awal sangat sulit dilakukan dan penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami hingga kini.
Baca Juga: Ribuan ASN Karimun Jalani Skrining TBC, Ini Tujuannya
Namun para ahli sepakat, kombinasi faktor genetika, lingkungan, dan proses penuaan memainkan peran penting. Adapun beberapa faktor risiko yang telah teridentifikasi meliputi:
- Usia lanjut: Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, rata-rata muncul sekitar usia 60 tahun atau lebih.
- Jenis kelamin: Pria memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan wanita.
- Paparan racun lingkungan seperti pestisida atau logam berat.
- Faktor genetik: Sekitar 10-20 persen kasus mungkin terkait mutasi gen tertentu.
Walaupun tidak semua orang dengan faktor-faktor tersebut akan terkena Parkinson, pemahaman tentang faktor ini bisa membantu deteksi dan intervensi lebih awal. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak