Batampos - Pulau Sumatera, khususnya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mengalami rentetan musibah. Bencana alam. Mulai dari tanah longsor, banjir bandang yang membawa jutaan gelondongan kayu hasil penebangan di hutan Sumatera, merupakan dua bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia saat ini. Apakah ini murni faktor alam atau ada ulang manusia serakah yang tidak memperhatikan ekosistem lingkungan di sana?
Kedua jenis bencana ini umumnya terjadi secara tiba-tiba dan memakan banyak korban karena sifatnya yang cepat dan sulit diprediksi. Lantas, apa penyebab tanah longsor dan banjir bandang ini terjadi? Berikut penjelasannya seperti dikutip dari United Nations Office for Disaster Risk Reduction (UNDRR) – Landslide and Flood Risk Assessment Guidelines, yakni:.
1. Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan
Penggundulan hutan adalah salah satu faktor terbesar dari bencana hidrometeorologi. Pohon dan akar berfungsi mengikat tanah dan menyerap air. Ketika hutan ditebang, air hujan langsung mengalir ke permukaan dan membawa lapisan tanah, meningkatkan risiko longsor dan banjir bandang.
Alih fungsi lahan untuk pertanian, permukiman, atau tambang juga memperburuk kondisi ini. Dan inilah yang terjadi di wilayah Sumatera Utara, khususnya di Toba dan Tapanulis kini. Dimana, di hutan hulu tropis, terjadi penambangan emas dan pemotongan pohon-pohon dalam skala besar.
2. Curah Hujan Tinggi
Curah hujan ekstrem menjadi penyebab utama tanah longsor dan banjir bandang. Ketika hujan turun terus-menerus, air meresap ke dalam tanah hingga membuat struktur tanah menjadi jenuh dan kehilangan daya ikat.
Baca Juga: Presiden Prabowo Pastikan Pemerintah Bergerak Cepat Kirim Bantuan Kepada Korban Bencana di Sumatera
Dalam kondisi tertentu, tekanan air membuat tanah bergerak dan menyebabkan longsor. Sementara pada jalur sungai, volume air yang meningkat drastis bisa meluap dan membawa material seperti kayu, lumpur, dan bebatuan. Inilah yang memicu banjir bandang.
3. Struktur Tanah Labil
Tanah dengan kandungan lempung tinggi atau berada di kemiringan ekstrem lebih rentan terhadap longsor. Tanah seperti ini mudah mengembang saat basah dan menyusut saat kering, sehingga tidak stabil. Di banyak wilayah perbukitan Indonesia, jenis tanah ini memperbesar risiko longsor ketika musim hujan.
4. Kemiringan Lereng yang Curam
Daerah dengan kemiringan lereng tajam sangat sensitif terhadap pergerakan tanah. Ketika hujan deras mengguyur lereng curam, massa tanah yang tidak stabil mudah jatuh dan menghancurkan area permukiman di bawahnya. Banyak wilayah pegunungan di Sumatera dan Jawa termasuk zona risiko tinggi.
5. Sungai Menyempit atau Tersumbat
Aktivitas manusia seperti pembangunan ilegal di bantaran sungai, pembuangan sampah, dan sedimentasi membuat sungai menyempit. Akibatnya, ketika hujan lebat turun, aliran air tidak mampu tertampung dan menjadi banjir bandang. Material yang tersangkut dapat membentuk bendungan sementara atau natural dam, dan ketika jebol air akan menghantam wilayah hilir dengan kekuatan besar.
6. Aktivitas Seismik
Gempa bumi juga dapat memicu tanah longsor, terutama di daerah pegunungan. Guncangan merusak struktur tanah, membuatnya retak dan melemah. Jika terjadi hujan setelah gempa, risiko longsor meningkat berkali-lipat. Indonesia sebagai negara ring of fire atau yang dikelilingi cincin api, sangat rawan dengan kondisi ini.
7. Drainase yang Buruk
Sistem drainase yang tidak memadai menyebabkan air menggenang dan meresap ke dalam tanah secara berlebihan. Di permukiman padat penduduk, kondisi drainase buruk sering memperparah banjir bandang karena air tidak dapat mengalir ke sungai atau kanal dengan cepat. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak