Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Musim Kemarau Mengancam, Pemerintah Perkuat Cadangan Beras Nasional

jpg • Rabu, 20 Mei 2026 | 11:01 WIB
Ilustrasi stok beras di gudang Bulog. (Humas Kementan)
Ilustrasi stok beras di gudang Bulog. (Humas Kementan)

batampos – Pemerintah memastikan stok beras nasional berada pada level tertinggi sepanjang sejarah Indonesia, yakni mencapai 5,37 juta ton. Ketersediaan tersebut diyakini cukup aman untuk menghadapi potensi musim kemarau tahun ini.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan, hingga 18 Mei 2026 serapan beras nasional telah mencapai 2,8 juta ton. Capaian itu dinilai menjadi indikator kuat meningkatnya ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan global.

“Serapan beras Januari hingga 18 Mei mencapai 2,8 juta ton dan stok nasional mencapai 5,37 juta ton. Ini merupakan stok tertinggi sepanjang sejarah Republik Indonesia,” ujar Sudaryono dalam Rapat Kerja dan Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IV DPR RI di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (19/5).

Menurut pria yang akrab disapa Mas Dar tersebut, peningkatan stok beras menunjukkan Indonesia semakin siap menghadapi dampak perubahan iklim maupun ketidakpastian geopolitik dunia yang memengaruhi rantai pasok pangan global.

Pemerintah, lanjutnya, terus memperkuat kemandirian pangan melalui peningkatan serapan gabah petani, penguatan cadangan beras pemerintah, serta perlindungan harga di tingkat petani.

“Indonesia terus memperkuat kemandirian pangan nasional agar kebutuhan masyarakat tetap terjamin dalam kondisi apa pun,” katanya.

Sudaryono menjelaskan, produksi beras nasional sepanjang 2025 mencapai 34,69 juta ton atau meningkat 4,07 juta ton dibanding tahun sebelumnya. Angka tersebut naik sekitar 13,29 persen dibanding produksi 2024.

Ia menilai peningkatan produksi itu tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, mulai dari arahan Presiden, dukungan DPR RI, hingga kerja keras petani di seluruh Indonesia.

“Produksi beras tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton atau naik 13,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.

Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai potensi musim kemarau panjang pada 2026. Berdasarkan prediksi BMKG, musim kemarau mulai terjadi sejak April di wilayah Nusa Tenggara dan diperkirakan meluas ke berbagai daerah lain dengan puncak kemarau pada Agustus mendatang.

Untuk mengantisipasi dampaknya terhadap produksi pangan nasional, pemerintah memperkuat cadangan beras serta menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasar.

Pemerintah juga telah menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026–2029.

Melalui kebijakan tersebut, Perum Bulog ditargetkan mampu menyerap gabah setara 4 juta ton beras dengan harga pembelian gabah kering panen (GKP) sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani.

Di sisi lain, perlindungan terhadap petani juga terus diperkuat melalui kebijakan Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Saat ini rata-rata harga gabah di tingkat petani tercatat mencapai Rp6.815 per kilogram atau sekitar 4,85 persen di atas HPP pemerintah.

Kementerian Pertanian optimistis target serapan beras nasional dapat tercapai karena potensi panen dalam beberapa bulan ke depan masih cukup tinggi.

Pada Mei 2026, potensi panen diperkirakan mencapai 929 ribu hektare atau setara 2,75 juta ton beras. Sedangkan Juni diproyeksikan mencapai 841 ribu hektare atau setara 2,47 juta ton beras. (*)

Editor : Jamil Qasim
#potensi musim kemarau #stok beras nasional