batampos – Operasi penangkapan bandar narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, berujung tragis. Seorang anggota Polri gugur, sementara dua personel lainnya hingga kini masih dalam pencarian setelah terjadi penyerangan oleh sekelompok warga bersenjata.
Direktur Tindak Pidana Narkoba (Dirtipidnarkoba) Bareskrim Polri, Brigjen Eko Hadi Santoso, mengatakan pihaknya telah mengerahkan personel untuk membantu penanganan kasus sekaligus mendukung pencarian dua anggota yang belum ditemukan.
"Kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum Aipda Yudhie Perdana Putra yang gugur saat menjalankan tugas memberantas peredaran narkotika," ujar Eko, Jumat (3/7).
Selain menyampaikan duka cita, Bareskrim juga memastikan akan memberikan dukungan penuh kepada jajaran Polda Kalimantan Tengah dan Polres Katingan.
"Kami akan melakukan back up penuh terhadap jajaran di lapangan, baik dalam proses pencarian anggota yang masih belum ditemukan, pengamanan wilayah, maupun pengungkapan tuntas jaringan narkotika dan pelaku penyerangan terhadap anggota Polri," tegasnya.
Target Residivis Narkoba
Eko menjelaskan, operasi dilakukan setelah polisi menerima informasi masyarakat mengenai dugaan peredaran sabu di Desa Tumbang Kalemei.
Petugas kemudian mengidentifikasi seorang target operasi berinisial BIO, yang merupakan residivis kasus narkotika.
Sebanyak 12 personel Satresnarkoba Polres Katingan diterjunkan dalam operasi tersebut dan dibagi menjadi dua tim. Tim pertama bertugas melakukan penangkapan di rumah target, sedangkan tim kedua bersiaga sebagai unsur pendukung.
Target berhasil diamankan. Namun situasi berubah ketika sejumlah orang yang berada di dalam rumah bersama warga sekitar melakukan perlawanan menggunakan senjata tajam.
Massa yang terus bertambah dilaporkan juga menggunakan senjata api rakitan sehingga kondisi di lokasi menjadi tidak terkendali.
Dalam upaya menyelamatkan diri, para personel kepolisian menyeberangi sungai menuju kawasan hutan.
Satu Gugur, Dua Masih Dicari
Akibat insiden tersebut, Aipda Yudhie Perdana Putra ditemukan meninggal dunia dengan luka akibat senjata tajam.
Sementara dua anggota lainnya, yakni Aiptu Sumaryanto dan Bripda Nopandri Ramadhana, hingga kini masih dinyatakan hilang dan sedang dicari oleh tim gabungan.
Bareskrim Polri menegaskan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pola operasi pemberantasan narkoba, terutama terkait perencanaan, pemetaan potensi ancaman, kesiapan personel, serta perlengkapan yang digunakan saat bertugas.
"Pelaksanaan penindakan harus dipersiapkan secara matang, mulai dari perencanaan operasi, pemetaan potensi ancaman, hingga kekuatan personel dan perlengkapan. Keselamatan anggota merupakan prioritas," kata Eko. (*)
Editor : Jamil Qasim