Usai Dikepung Kabut Asap, Sumut Diterjang Banjir dan Longsor

JawaPos • Dipublikasikan Kamis, 29 Oktober 2026 | 13:31 WIB
Hujan berintensitas tinggi mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut Pos)
Hujan berintensitas tinggi mengakibatkan banjir dan tanah longsor di sejumlah wilayah Sumatera Utara (Sumut Pos)

Tujuh Kabupaten/Kota Terdampak, Ratusan Warga Mengungsi

batampos – Belum sepenuhnya lepas dari ancaman kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Sumatera Utara (Sumut) kini dilanda bencana banjir dan tanah longsor. Hujan deras yang mengguyur sejumlah wilayah menyebabkan permukiman terendam, akses jalan terganggu, dan ratusan warga terpaksa mengungsi.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut hingga Kamis (29/10) pukul 09.00 WIB, bencana melanda tujuh kabupaten/kota, yakni Medan, Binjai, Deli Serdang, Langkat, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, dan Padang Lawas Utara.

Dari tujuh daerah tersebut, lima wilayah dilanda banjir, sedangkan dua lainnya mengalami tanah longsor.

Dampak paling besar dari sisi evakuasi terjadi di Kota Medan. Sebanyak 603 warga terpaksa meninggalkan rumah untuk mengungsi ke lokasi yang lebih aman. Sementara itu, banjir di Kabupaten Langkat berdampak terhadap 694 jiwa.

Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, mengatakan penanganan darurat masih berlangsung. Pemerintah provinsi terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan keselamatan warga sekaligus mendata kerusakan dan kebutuhan bantuan.

“Saat ini, pemerintah daerah bersama BPBD setempat masih melakukan penanganan, pendataan dampak, serta pemantauan terhadap kondisi di lokasi terdampak,” ujar Tuahta, Kamis (29/10).

Di Kota Medan, banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Rabu (28/10) malam. Sedikitnya empat kecamatan terdampak, yakni Medan Tuntungan, Medan Maimun, Medan Johor, dan Medan Helvetia.

Sejumlah kawasan permukiman terendam, di antaranya Tanjung Selamat, Sei Mati, Kampung Baru, Hamdan, Aur, Gedung Johor, Kwala Bekala, dan Tanjung Gusta.

Ketinggian air bervariasi antara 20 sentimeter hingga 1,5 meter. Genangan tertinggi terjadi di kawasan Sei Mati dan sekitar Jembatan Sigra-sigra dengan ketinggian mencapai 100–150 sentimeter.

Sementara itu, kawasan Gedung Johor dan Kwala Bekala terendam air setinggi 60–100 sentimeter.

Sebanyak 603 warga dievakuasi ke sejumlah tempat pengungsian, seperti kantor kelurahan, masjid, dan musala. Lokasi pengungsian antara lain Kantor Lurah Sei Mati, Masjid Abidin, Musala Al Amin, Masjid Muttaqin, Masjid Al Hasanah, dan Masjid Ubudiyah.

Pemerintah Kota Medan bersama BPBD terus memantau perkembangan genangan dan kondisi aliran sungai untuk mengantisipasi kemungkinan banjir susulan.

Banjir juga menerjang Kabupaten Langkat, khususnya Kecamatan Serapit dan Besitang. Sedikitnya empat desa terdampak, yakni Gunung Tinggi, Suka Pulung, Tanjung, dan Sekoci.

BPBD mencatat 694 jiwa terdampak banjir. Warga mengungsi ke sejumlah posko yang disiapkan di Desa Sekoci, Kecamatan Besitang.

Di Posko I, tercatat 265 pengungsi dari Dusun Sejambu dan Dusun Sekoci. Posko II menampung 315 warga dari Dusun Sidodadi dan Dusun Pantai Pulau, sedangkan Posko III menampung 114 warga dari Dusun Suka Ramai.

Pemerintah Kabupaten Langkat bersama BPBD terus melakukan pendataan dan memastikan kebutuhan dasar warga terdampak dapat terpenuhi.

Sementara itu, banjir di Kabupaten Deli Serdang melanda lima kecamatan, yakni Bangun Purba, Sunggal, Delitua, Tanjung Morawa, dan Hamparan Perak.

Di Desa Mabar, Kecamatan Bangun Purba, lima rumah terdampak banjir. Sebagian warga mengungsi ke rumah kerabat dan masjid.

Di Desa Sunggal Kanan, Kecamatan Sunggal, air menggenangi permukiman hingga 30 sentimeter. Sedangkan di Desa Lalang, sekitar 35 rumah terendam. Delapan rumah lainnya terdampak banjir di Kelurahan Delitua Barat dengan ketinggian air mencapai 40 sentimeter.

Banjir cukup parah juga terjadi di Desa Punden Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa, akibat luapan Sungai Sei Putih yang disertai kerusakan tanggul sejak Selasa (27/10).

Di Dusun I, banjir berdampak terhadap tujuh kepala keluarga (KK) atau 31 jiwa. Sementara di Dusun II, sebanyak 81 KK atau 327 jiwa terdampak.

Tanggul Sungai Sei Putih di Dusun II dilaporkan mengalami kerusakan sepanjang sekitar lima meter. Meski demikian, genangan di Desa Punden Rejo telah surut sepenuhnya hingga Kamis pagi.

Kondisi berbeda terjadi di Desa Lama, Kecamatan Hamparan Perak. Luapan Sungai Sei Belawan menyebabkan air setinggi 50–70 sentimeter merendam 70 rumah yang dihuni 263 jiwa.

Pemerintah daerah bersama BPBD, pihak kecamatan, dan Dinas Sosial telah melakukan penanganan, termasuk menyiapkan dapur umum serta bantuan kebutuhan pokok.

Banjir juga melanda sejumlah kawasan di Kota Binjai. Namun, hingga Kamis pagi, petugas masih mendata jumlah rumah, warga terdampak, dan kemungkinan adanya pengungsi.

Di Kabupaten Mandailing Natal, banjir menerjang Desa Binanga, Kecamatan Huta Bargot, serta Desa Rumbio, Kecamatan Panyabungan Utara, pada Rabu malam sekitar pukul 23.00 WIB.

Di Desa Binanga, sedikitnya 30 rumah dan satu sekolah terendam air setinggi 60 sentimeter. Sementara di Desa Rumbio, dua rumah dan satu rumah ibadah terdampak banjir dengan ketinggian air serupa.

Selain banjir, hujan deras juga memicu tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Selatan dan Padang Lawas Utara.

Di Desa Luat Lombang, Kecamatan Sipirok, Tapanuli Selatan, material longsor mengganggu akses Jalan Lintas Sipirok–Tarutung.

Sedangkan di Desa Sipaho Simpang Barumun, Kecamatan Halongonan, Padang Lawas Utara, longsor merusak akses jalan penghubung desa. Kondisi tersebut berpotensi menghambat mobilitas warga, baik pengguna kendaraan roda dua maupun roda empat.

BPBD setempat telah melakukan asesmen dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mempercepat penanganan. Berdasarkan laporan sementara, tidak terdapat korban jiwa, korban luka, maupun pengungsi akibat longsor di Padang Lawas Utara.

Kepala BPBD Sumut, Tuahta Ramajaya Saragih, mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana susulan, terutama selama hujan berintensitas tinggi masih berpeluang terjadi.

Warga yang tinggal di sekitar aliran sungai diminta mewaspadai kenaikan debit air secara tiba-tiba. Sementara masyarakat di kawasan perbukitan diimbau mengantisipasi pergerakan tanah.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung. Warga di daerah rawan banjir perlu mengantisipasi kenaikan debit air secara tiba-tiba, sedangkan masyarakat di kawasan perbukitan harus mewaspadai potensi tanah longsor,” tegasnya.

Tuahta menekankan, keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana.

“Jika kondisi di sekitar tempat tinggal mulai membahayakan, warga diharapkan segera mencari tempat yang lebih aman dan mengikuti arahan petugas di lapangan,” katanya.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sumut masih disibukkan dengan upaya penanganan kabut asap akibat karhutla yang menyelimuti sejumlah wilayah.

Gubernur Sumut, Bobby Nasution, bahkan menyatakan akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau kondisi atmosfer serta mempertimbangkan pelaksanaan kembali Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Kini, setelah menghadapi ancaman kabut asap, Sumut kembali diuji bencana hidrometeorologi. Pemerintah daerah harus menangani dampak banjir dan longsor sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem yang berlanjut. (*)

Editor : Jamil Qasim
Diterjang Banjir dan Longsor sumut