batampos - Lionel Messi kembali menjadi pusat perhatian dunia sepak bola. Kapten Timnas Argentina itu resmi menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang masa Piala Dunia dengan koleksi 18 gol, sebuah pencapaian yang semakin memperkuat statusnya sebagai salah satu pemain terbesar dalam sejarah turnamen empat tahunan tersebut.
Rekor itu membuat sorotan kembali tertuju kepada rival abadinya, Cristiano Ronaldo. Namun, jika Messi menikmati perjalanan gemilang bersama Argentina, Ronaldo justru menghadapi situasi berbeda bersama Portugal yang masih mencari bentuk permainan terbaiknya di Piala Dunia 2026.
Messi mampu melanjutkan momentum setelah membawa Argentina menjadi juara dunia pada Piala Dunia 2022. Pada edisi 2026, pemain berusia 39 tahun itu bahkan sudah mencetak lima gol hanya dalam dua pertandingan awal dan melewati catatan sejumlah legenda seperti Miroslav Klose.
Di sisi lain, Ronaldo harus menghadapi tekanan karena Portugal belum mampu menunjukkan performa yang sebanding dengan kualitas individu yang mereka miliki.
Ronaldo Belum Mampu Membawa Portugal Tampil Meyakinkan
Portugal mengawali Piala Dunia 2026 dengan kepercayaan diri tinggi saat menghadapi Republik Demokratik Kongo. Secara statistik, Selecao tampil dominan dengan penguasaan bola mencapai 75,4 persen dan akurasi umpan 92,5 persen.
Namun, dominasi tersebut tidak menghasilkan kemenangan. Portugal hanya mencatat tujuh tembakan ke arah gawang, sementara Kongo mampu membuat delapan percobaan.
Catatan tersebut menjadi ironi bagi Portugal. Mereka menjadi salah satu tim yang kalah meski menguasai bola lebih dari 70 persen, sesuatu yang jarang terjadi dalam sejarah Piala Dunia.
Cristiano Ronaldo juga menjadi sorotan karena gagal memanfaatkan peluang. Ia mencatat tiga tembakan dengan nilai peluang gol (xG) 0,46, tetapi tidak mampu mencetak gol. Sementara penyerang Kongo, Yoane Wissa, tampil lebih efektif dengan satu gol dari dua tembakan.
Portugal Butuh Lebih dari Sekadar Ronaldo
Meski Ronaldo menjadi pemain yang paling banyak mendapat perhatian, masalah Portugal sebenarnya bukan hanya soal sang kapten.
Tim asuhan Roberto Martinez memiliki banyak pemain berkualitas seperti Bruno Fernandes, Vitinha, Rafael Leao, Pedro Neto, Francisco Conceicao, dan Joao Neves. Namun, kualitas individu tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi permainan kolektif yang efektif.
Portugal masih kesulitan menciptakan peluang bersih di area pertahanan lawan. Penguasaan bola yang besar sering kali tidak diikuti kreativitas dan penyelesaian akhir yang tajam.
Lini tengah Portugal juga harus memperbaiki transisi permainan. Ketika kehilangan bola, mereka beberapa kali terlihat rentan menghadapi serangan balik cepat lawan.
Uzbekistan Bisa Menjadi Ancaman Serius
Laga berikutnya menghadapi Uzbekistan menjadi ujian penting bagi Portugal. Tim debutan Piala Dunia itu memang kalah dari Kolombia, tetapi menunjukkan keberanian dan organisasi permainan yang cukup baik.
Pemain seperti Obidjon Shukurov dan Abbosbek Fayzullaev menjadi ancaman karena mampu membangun serangan dan memberikan tekanan tinggi kepada lawan.
Portugal tidak boleh hanya mengandalkan pengalaman dan nama besar. Mereka harus tampil lebih agresif, kreatif, dan efisien jika ingin menjaga peluang melaju jauh di turnamen.
Messi Menjauh, Ronaldo Masih Berjuang
Perjalanan Piala Dunia 2026 memperlihatkan dua cerita berbeda dari dua ikon sepak bola dunia.
Messi terus memperlebar warisannya dengan rekor demi rekor bersama Argentina. Sementara Ronaldo masih berusaha membuktikan bahwa dirinya tetap mampu menjadi pembeda di level tertinggi.
Namun, sepak bola adalah permainan tim. Portugal tidak akan berhasil hanya dengan mengandalkan Ronaldo, sama seperti Argentina tidak hanya bergantung kepada Messi.
Jika Portugal mampu menemukan keseimbangan antara kreativitas, kerja sama, dan efektivitas, mereka masih memiliki peluang besar. Tetapi jika kembali tampil seperti saat menghadapi Kongo, mimpi menjadi kandidat juara Piala Dunia 2026 bisa semakin sulit diwujudkan. (*)
Editor : Jamil Qasim