batampos – Atlet panjat tebing Indonesia, Desak Made Rita Kusuma Dewi, kembali mengukir prestasi internasional setelah meraih medali emas nomor speed putri pada World Climbing Series Krakow 2026 di Polandia. Kemenangan tersebut melengkapi sejarah baru yang tercipta pada ajang ini, yakni penyelenggaraan final speed pertama menggunakan dinding panjat empat lajur.
Pada final yang berlangsung di Krakow, Desak mengalahkan wakil tuan rumah Polandia, Natalia Kałucka, dengan catatan waktu 6,54 detik. Sementara Kałucka membukukan waktu 6,62 detik.
Keberhasilan itu menjadi gelar World Climbing Series kedua dalam karier Desak, dan keduanya sama-sama diraih di Krakow.
"Saya sangat senang. Ini adalah medali kedua saya di Krakow. Saya tidak menyangka bisa meraih emas lagi karena semua pesaing tampil sangat cepat. Saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh atlet, serta berterima kasih kepada tim, pelatih, dan seluruh masyarakat Indonesia yang telah mendukung kami," kata Desak.
Atlet asal Bali tersebut juga berharap keberhasilannya dapat mendorong peningkatan dukungan terhadap olahraga panjat tebing di Indonesia.
"Sebelum kompetisi ini kami menghadapi sejumlah kendala karena dukungan pemerintah belum maksimal. Saya berharap setelah meraih medali emas ini, dukungan tersebut akan semakin baik," ujarnya.
Desak juga menyampaikan apresiasinya kepada Krakow yang kembali menjadi tempat lahirnya prestasi terbaik dalam kariernya.
"Terima kasih banyak untuk Krakow. Tempat ini memiliki makna yang sangat indah bagi saya," katanya.
Sam Watson Juara Speed Putra
Di sektor putra, atlet Amerika Serikat Samuel Watson tampil sebagai juara setelah membukukan waktu terbaik sepanjang kompetisi, yakni 4,60 detik, pada babak perebutan medali.
Catatan tersebut mengantarkan Watson mengalahkan pemegang rekor dunia asal China, Zhao Yicheng, yang finis kedua dengan waktu 4,69 detik.
Sementara medali perunggu menjadi milik wakil Indonesia Raharjati Nursamsa setelah mencatatkan waktu 4,79 detik. Posisi keempat ditempati atlet China, Chu Shouhong, dengan waktu 4,81 detik atau hanya terpaut 0,02 detik dari Raharjati.
Watson mengaku puas dengan kemenangan yang diraihnya, terlebih berlangsung bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.
"Saya merasa luar biasa. Kemenangan ini sangat berarti, apalagi terjadi pada Hari Kemerdekaan Amerika Serikat. Bisa bersaing di level tertinggi dengan format baru ini merupakan pengalaman yang hebat," ujar Watson.
Meski demikian, ia mengaku masih mengincar catatan waktu yang lebih baik.
"Saya sebenarnya berharap bisa memecahkan rekor, tetapi format satu lawan satu mungkin lebih mendukung untuk itu," katanya.
Watson juga mengungkapkan bahwa peningkatan performanya tidak lepas dari perubahan metode latihan, termasuk mempelajari teknik milik Zhao Yicheng.
"Saya meniru beberapa teknik Zhao Yicheng dan merasa berhasil mengunggulinya pada bagian yang selama ini ingin saya tingkatkan. Itu memberikan kepercayaan diri lebih untuk terus berkembang," ujarnya.
Emma Hunt Pecahkan Rekor Dunia
Selain kemenangan Desak dan Watson, kompetisi di Krakow juga diwarnai sejarah baru melalui penampilan atlet Amerika Serikat Emma Hunt.
Pada babak perempat final, Hunt membukukan waktu 5,99 detik, menjadikannya atlet putri pertama dalam sejarah panjat tebing speed yang mampu menyelesaikan lintasan dalam waktu di bawah enam detik.
Meski sukses memecahkan rekor dunia, Hunt harus puas membawa pulang medali perunggu setelah tergelincir pada babak perebutan medali dan mencatatkan waktu 11,37 detik.
Final putri juga menjadi momen emosional bagi atlet Polandia Aleksandra Mirosław. Peraih rekor dunia sebelumnya itu gagal meraih podium setelah melakukan false start pada balapan pertama perebutan medali.
Ajang di Krakow menjadi kompetisi internasional terakhir Mirosław sebelum pensiun. Atlet Polandia tersebut dijadwalkan tampil untuk terakhir kalinya pada Kejuaraan Eropa Panjat Tebing di Laval, Prancis, sebelum mengakhiri karier kompetitifnya.
World Climbing Series Krakow 2026 menjadi salah satu seri paling bersejarah dalam kalender panjat tebing dunia. Selain memperkenalkan format final menggunakan empat lajur, kompetisi ini juga menghadirkan rekor dunia baru, kemenangan kedua Desak Made Rita di Krakow, serta podium internasional bagi Raharjati Nursamsa yang memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama nomor speed dunia. (*)
Editor : Putut Ariyo