Batampos - Kapal ferry MV Seven Star Island yang melayani rute Tanjungpinang menuju Kabupaten Kepulauan Anambas pada Jumat, (9/1/2026) pagi ini, dipastikan batal berangkat. Keputusan ini diambil demi keselamatan pelayaran dan para penumpang akibat cuaca ekstrem yang melanda perairan Anambas.
Gelombang laut dilaporkan mencapai ketinggian hingga 4 meter, sehingga dinilai berbahaya bagi pelayaran kapal feri.
Selain itu, angin kencang dan arus laut yang kuat juga turut memperburuk kondisi. Situasi ini berpotensi mengganggu stabilitas kapal jika tetap dipaksakan berlayar.
Operator kapal MV Seven Star Island, Fahmi, membenarkan penundaan tersebut. Ia mengatakan keputusan itu diambil berdasarkan prediksi cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Keberangkatan ditunda. Prediksi dari BMKG gelombang kencang,” kata Fahmi, kemarin.
Dengan dibatalkannya pelayaran feri ini, arus penumpang diperkirakan akan beralih ke kapal Pelni KM Bukit Raya yang dijadwalkan berangkat pada Selasa, (13/1/2026) mendatang.
KM Bukit Raya merupakan kapal berukuran besar dengan kapasitas penumpang yang jauh lebih banyak dibandingkan kapal feri. Kapal ini juga dilengkapi fasilitas keselamatan yang lebih lengkap dan mampu mengarungi laut dalam dan lebih stabil saat menghadapi gelombang tinggi, sehingga sering menjadi pilihan utama saat cuaca buruk.
Namun, tingginya minat masyarakat membuat tiket KM Bukit Raya cepat habis. Berdasarkan pantauan di aplikasi Pelni Mobile, tiket dari Kijang menuju Anambas sudah tidak tersedia lagi.
Kondisi ini diperparah karena saat ini masih berada dalam masa arus balik Natal dan Tahun Baru, di mana banyak warga kembali ke tempat kerja dan sekolah di Anambas.
Salah seorang calon penumpang, Rahmad, mengaku kesulitan mendapatkan tiket. Ia sudah mencoba mencari melalui aplikasi maupun konter resmi Pelni.
“Tadi kami cari di aplikasi tiket sudah habis. Begitu juga ke konter Pelni, tiket juga habis,” kata Rahmad.
Kini Rahmad dan calon penumpang lainnya hanya bisa berharap ada penumpang yang membatalkan perjalanan, sehingga kursi yang kosong bisa kembali dijual dan mereka tetap bisa berangkat menuju Anambas. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak