Batampos - Masyarakat Tambelan, Bintan kembali menghadapi kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis pertamax dan pertalite.
Salah satu warga, Sari mengungkapkan keresahannya atas kondisi ini. "Masyarakat resah, karena pertamax dan pertamax sudah tidak ada lagi," ujarnya saat ditemui Senin (30/3/2026).
Ia mengatakan, BBM biasanya didatangkan dari Singkawang, Kalimantan Barat. Namun, kini kedua jenis BBM itu tidak lagi tersedia.
"Kita tidak mengetahui penyebab pasti kekurangan BBM. Kita cuma dapat info tidak bisa lagi didatangkan dari Kalbar," katanya.
Ia berharap pemerintah dapat segera mengatasi masalah ini agar roda perekonomian masyarakat dapat kembali berjalan.
"Kami tidak menuntut banyak, hanya minta pertalite dan pertamax dikirim lagi," katanya.
Camat Tambelan, Asmawi mengatakan krisis BBM telah berlangsung lebih dari seminggu.
Krisis BBM juga membuat operasional truk pengangkut sampah terkendala akibat tidak adanya BBM.
Petugas juga mengalami kesulitan memadamkan kebakaran lahan karena tidak ada BBM.
"Sudahlah air susah, BBM untuk operasional mesin damkar juga susah. Kami harus lari kesana kemari mencari minyak," katanya.
Ia menjelaskan, selama ini Tambelan dibantu suplai BBM jenis pertamax dari Kalbar dengan harga yang telah ditentukan.
Namun, banyak pedagang yang membeli Pertalite dengan harga murah dari Kalbar dan menjualnya dengan harga tinggi di Tambelan.
Hal ini menyebabkan BBM jenis pertamax yang dikelola oleh sub penyalur tidak laku dan mengakibatkan penyusutan.
Pedagang nakal juga mengambil kesempatan atas kondisi ini dengan menaikan harga BBM jenis pertalite menjadi hingga Rp 28 ribu per botol ukuran 1,5 liter dari sebelumnya Rp 22.500 per botol. "Itu pun susah didapat," katanya. (*)
Editor : Chahaya Simanjuntak