Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Wakil Bupati Anambas Ajak Nelayan Saling Satu Hati, Hindari Konflik dan Tingkatkan Produksi Perikanan

Ihsan Imaduddin • Kamis, 13 November 2025 | 14:00 WIB
Wakil Bupati Anambas, Raja Bayu (berdiri dipodium) saat memberikan arahan mengenai konflik internal nelayan.
Wakil Bupati Anambas, Raja Bayu (berdiri dipodium) saat memberikan arahan mengenai konflik internal nelayan.

batampos— Nelayan di Kabupaten Kepulauan Anambas masih dihadapkan pada persoalan internal saat melaut.

Salah satu yang sering muncul adalah perbedaan batas wilayah tangkapan dan penggunaan alat penangkapan ikan.

Konflik ini umumnya terjadi antar nelayan dari desa yang berbeda.

Beberapa wilayah nelayan memiliki aturan tidak tertulis yang melarang nelayan desa lain untuk menangkap ikan di perairannya.

Hal ini terkadang menimbulkan kesalahpahaman di lapangan.

Melihat kondisi tersebut, Wakil Bupati Kepulauan Anambas, Raja Bayu, mengajak para nelayan untuk kembali memperkuat kebersamaan.

Menurutnya, perbedaan seharusnya tidak menjadi alasan untuk berpecah, apalagi semua nelayan yang mencari ikan di laut Anambas adalah masyarakat daerah sendiri.

“Jangan sampai ada jarak di antara kita. Semua nelayan di Anambas ini adalah satu keluarga besar. Kalau ada perbedaan, mari kita bicarakan dengan baik,” ujar Raja Bayu saat audiensi bersama para nelayan di Aula Kantor Bupati, Pasir Peti, Desa Pesisir Timur, Rabu (12/11).

Ia menyebutkan bahwa laut Anambas merupakan sumber penghidupan bersama, bukan milik satu kelompok saja.

Karena itu, perlu rasa saling menghargai dan saling memahami antar sesama nelayan.

“Laut ini luas, ikannya banyak. Kalau kita kompak dan saling berbagi, hasilnya akan lebih baik untuk semua,” kata Raja Bayu.

Menurutnya, kerja sama dan kekompakan nelayan menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan sektor perikanan.

Apalagi, Anambas dikenal sebagai salah satu daerah dengan potensi ikan terbesar di Kepulauan Riau, bahkan hingga ke wilayah Sumatera.

“Kalau kita bisa menjaga persaudaraan, hasil tangkapan akan meningkat dan kesejahteraan juga ikut naik. Mari jadikan laut Anambas sebagai berkah, bukan sumber perselisihan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Cabang Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kepulauan Riau di Anambas,

Amriansyah Amir, turut memberikan imbauan kepada para nelayan agar menjaga kelestarian laut. Salah satunya dengan tidak menggunakan alat tangkap yang dilarang oleh pemerintah.

Amriansyah menjelaskan, beberapa alat tangkap seperti pukat hela (trawl), pukat tarik, bom ikan, racun potasium, dan kompresor selam untuk menangkap ikan merupakan alat yang tidak ramah lingkungan dan bisa merusak ekosistem laut.

“Kalau terumbu karang rusak, ikan kecil ikut mati. Akhirnya, hasil tangkapan juga berkurang. Jadi mari kita jaga laut ini bersama, supaya tetap lestari dan bisa dinikmati anak cucu kita nanti,” ujar Amriansyah.

Ia juga mengingatkan bahwa menjaga laut bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama seluruh nelayan. Dengan cara itu, sumber daya ikan akan tetap melimpah sepanjang tahun.

“Kita ingin laut Anambas tetap indah dan kaya. Kalau lautnya sehat, maka hidup nelayan juga akan sejahtera,” tambahnya.

Audiensi tersebut berlangsung dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Para nelayan juga menyampaikan harapan agar pemerintah terus mendukung kegiatan mereka melalui pelatihan, bantuan alat tangkap ramah lingkungan, serta penguatan kelompok nelayan. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#nelayan