Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Kampus dan Industri Berpacu di Era AI, ITEBA Gandeng NVIDIA Bangun Ekosistem Kecerdasan Buatan

Abdul Azis Maulana • Jumat, 3 Juli 2026 | 15:02 WIB
Institut Teknologi Batam (ITEBA) bekerja sama dengan NVIDIA Indonesia menggelar Perlombaan pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Jumat (3/7).
Institut Teknologi Batam (ITEBA) bekerja sama dengan NVIDIA Indonesia menggelar Perlombaan pengembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), Jumat (3/7).

 

batampos– Persaingan pengembangan Artificial Intelligence (AI) kini semakin ketat di tingkat global. Negara-negara di Asia Tenggara pun berlomba mempercepat investasi teknologi dan menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten di bidang kecerdasan buatan. Indonesia dinilai tidak boleh tertinggal dalam perlombaan tersebut.

Kesadaran itu menjadi latar belakang penyelenggaraan NVIDIA AI Campus Seminar 2026 yang digelar Institut Teknologi Batam (ITEBA) bekerja sama dengan NVIDIA Indonesia, Jumat (3/7).

Seminar ini mempertemukan akademisi, praktisi teknologi, mahasiswa, hingga pelaku industri untuk membahas perkembangan terbaru AI serta penerapannya di berbagai sektor strategis. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah membangun ekosistem digital yang lebih kuat melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri.

Consumer Business Lead NVIDIA Indonesia, Andrian Lesmono, mengatakan perkembangan AI tidak bisa dihambat dengan pendekatan pelarangan. Menurutnya, teknologi AI kini semakin mudah diakses masyarakat, bahkan banyak platform yang dapat digunakan secara gratis.

"Kalau tidak diajarkan cara memakainya, justru bisa menimbulkan masalah baru. Institusi pendidikan, mulai dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, harus memberikan panduan yang jelas mengenai penggunaan AI," ujarnya.

Ia mencontohkan pemanfaatan AI dalam dunia akademik. AI dapat digunakan untuk mencari ide, referensi, maupun membantu proses pembelajaran. Namun, hasil karya tetap harus orisinal dan penggunaan AI perlu diungkapkan secara terbuka.

Andrian menilai pendekatan edukasi dan pemberian ruang inovasi jauh lebih efektif dibandingkan pembatasan penggunaan AI. Karena itu, ia mendorong sekolah dan perguruan tinggi memperbanyak kompetisi maupun proyek berbasis AI agar mahasiswa terbiasa menciptakan solusi inovatif.

"Semua negara sekarang sedang berlomba. Vietnam, Malaysia, Singapura, semuanya bergerak cepat. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton. Kita harus ikut berlari, tetapi tetap dengan arah yang jelas," katanya.

Dalam seminar tersebut, kreator konten sekaligus praktisi AI, Anjas Maradita, memaparkan perkembangan teknologi local AI, yakni pemanfaatan model kecerdasan buatan yang dapat dijalankan langsung di komputer pengguna tanpa bergantung sepenuhnya pada layanan komputasi awan (cloud).

Menurutnya, perkembangan perangkat keras NVIDIA telah menjadi salah satu fondasi utama lahirnya berbagai aplikasi AI generatif. Sejumlah platform, seperti ComfyUI, memungkinkan pengguna menghasilkan gambar, musik, hingga video berbasis perintah teks secara lokal.

"Pengguna sekarang bisa membuat generator gambar, musik, bahkan text-to-video tanpa harus terus-menerus berlangganan layanan daring," jelasnya.

Anjas juga memperkenalkan konsep AI agent dan otomasi berbasis platform seperti n8n, serta penggunaan model AI lokal yang berjalan di komputer pribadi dengan dukungan kartu grafis berkinerja tinggi.

Menurutnya, pendekatan tersebut sangat penting bagi perusahaan yang mengelola data sensitif karena proses analisis dapat dilakukan tanpa harus mengirim data ke server publik.

Ia mencontohkan sistem analisis investasi yang dikembangkannya untuk perusahaan modal ventura. Sistem tersebut mampu menganalisis dokumen bisnis dan laporan keuangan secara lokal sehingga keamanan data lebih terjaga.

"Data-data sensitif seperti laporan keuangan perusahaan sebaiknya tidak seluruhnya dikirim ke layanan publik. Dengan AI lokal, proses analisis tetap bisa dilakukan dengan tingkat privasi yang lebih tinggi," ujarnya.

Sementara itu, dosen pemrograman ITEBA, Deosa Caniago, menilai perkembangan AI merupakan bagian dari transformasi digital yang tidak dapat dihindari. Ia membandingkannya dengan perubahan besar yang pernah terjadi saat internet dan telepon pintar mulai digunakan secara luas.

Menurutnya, dalam lima tahun ke depan, AI akan semakin memengaruhi hampir seluruh disiplin ilmu, mulai dari teknik hingga industri kreatif.

"Perkembangan dari internet, kemudian smartphone, hingga AI sebenarnya merupakan rangkaian transformasi digital. Mau tidak mau kita harus beradaptasi dengan perubahan tersebut, sebagaimana dulu kita beradaptasi dengan smartphone," katanya.

Melalui penyelenggaraan NVIDIA AI Campus Seminar 2026, ITEBA menunjukkan komitmennya dalam mendukung pengembangan ekosistem AI di Indonesia. Perguruan tinggi di daerah dinilai memiliki peran strategis dalam menyiapkan SDM yang mampu bersaing di tengah percepatan revolusi teknologi global sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri. (*)

Editor : Jamil Qasim
#artificial intelligence (AI) #ITEBA