batampos - Menanam mangrove bukan sekadar menambah jumlah pohon di kawasan pesisir. Lebih dari itu, aksi tersebut menjadi investasi jangka panjang untuk menjaga garis pantai, melindungi habitat laut, sekaligus menghadapi ancaman perubahan iklim.
Semangat itulah yang dibawa PT Idros Services saat menanam 450 bibit mangrove di kawasan hutan pesisir Sei Beduk, Batam, Sabtu (1/8). Kegiatan konservasi tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pelajar, mahasiswa pencinta alam, komunitas lingkungan, relawan, hingga pemerintah melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Unit II Batam.
Aksi ini digelar dalam rangka memperingati Hari Mangrove Sedunia yang jatuh setiap 26 Juli. Selain menjadi bentuk kepedulian terhadap lingkungan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari program rehabilitasi kawasan pesisir Batam yang mengalami tekanan akibat aktivitas pembangunan dan perubahan lingkungan.
Baca Juga: Semarak Kemerdekaan, Propam Polda Kepri Bagikan 500 Bendera Merah Putih dan Sembako di Nongsa
Tidak hanya melakukan penanaman, para peserta juga membersihkan kawasan sekitar hutan mangrove dari berbagai jenis sampah yang tersangkut di antara akar tanaman. Sampah plastik, kemasan sekali pakai, hingga limbah rumah tangga yang terbawa arus pasang dikumpulkan untuk mengurangi ancaman terhadap ekosistem pesisir.
Assistant Base Manager PT Idros Services Batam, Setiawan Hermanto, mengatakan kegiatan konservasi mangrove merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan program keberlanjutan lingkungan.
Menurutnya, persoalan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kerja sama antara perusahaan, pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, dan masyarakat agar upaya pelestarian dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Kami melihat tantangan lingkungan dan perubahan iklim semakin nyata. Karena itu, perusahaan ingin mengambil bagian melalui kegiatan yang memberikan dampak positif dalam jangka panjang,” ujar Setiawan.
Ia menjelaskan, keberadaan mangrove memiliki peran penting bagi kawasan pesisir. Selain menjadi pelindung alami dari abrasi dan gelombang laut, mangrove juga menjadi rumah bagi berbagai biota serta memiliki kemampuan menyerap karbon dalam jumlah besar.
Baca Juga: Pikap Bermuatan Sofa Terbakar di Bintan Buyu, Tiga Orang Selamat
“Manfaat mangrove sangat besar. Selain menjaga pesisir, mangrove juga membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi dampak perubahan iklim,” katanya.
Setiawan menegaskan keberhasilan program rehabilitasi tidak hanya diukur dari banyaknya bibit yang ditanam, tetapi juga dari kemampuan tanaman tersebut bertahan hingga berkembang menjadi kawasan mangrove baru.
“Yang terpenting bukan hanya menanam, tetapi memastikan tanaman itu tumbuh. Karena itu, perawatan dan pemantauan menjadi bagian penting dari kegiatan ini,” ujarnya.
Libatkan Pelajar untuk Bangun Kesadaran Lingkungan
Keterlibatan pelajar menjadi salah satu bagian penting dalam kegiatan konservasi tersebut. PT Idros Services berharap generasi muda memahami sejak dini pentingnya menjaga ekosistem pesisir.
Setiawan mengatakan, pelajar yang ikut dalam kegiatan ini diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang membawa kepedulian lingkungan ke lingkungan sekolah maupun masyarakat.
“Generasi muda adalah penerus. Ketika mereka memahami manfaat mangrove, mereka akan memiliki kepedulian untuk menjaga lingkungan di masa depan,” ujarnya.
Program penanaman mangrove di Sei Beduk merupakan kegiatan konservasi kedua yang dilakukan PT Idros Services. Sebelumnya, perusahaan juga melakukan kegiatan serupa di kawasan Tanjung Uma.
Baca Juga: Remaja Usia 13–17 Tahun Paling Rentan Jadi Korban TPPO di Batam
Ke depan, kegiatan penghijauan pesisir akan terus dilakukan dan diperluas ke sejumlah wilayah lain di Batam.
Selain kegiatan eksternal, perusahaan juga menjalankan program ramah lingkungan di internal melalui berbagai gerakan penghematan energi, seperti pengurangan penggunaan air dan listrik di lingkungan kerja.
Pemerintah Dorong Peran Swasta dalam Pelestarian Mangrove
Penyuluh Kehutanan KPHL Unit II Batam, Rio Bernath, mengapresiasi keterlibatan sektor swasta dan komunitas dalam rehabilitasi kawasan mangrove.
Menurutnya, keterlibatan berbagai pihak menjadi kunci agar upaya penyelamatan ekosistem pesisir dapat berjalan maksimal.
“Kolaborasi seperti ini merupakan langkah nyata menjaga lingkungan untuk generasi sekarang dan masa depan,” kata Rio.
Ia menjelaskan, mangrove memiliki fungsi ekologis yang sangat besar. Selain menahan abrasi dan intrusi air laut, kawasan mangrove juga berfungsi sebagai penyaring sedimen, habitat berbagai jenis satwa, serta penyerap karbon atau blue carbon.
Namun, Rio mengungkapkan kawasan mangrove di Batam masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama akibat alih fungsi lahan, pembangunan kawasan pesisir, dan aktivitas penimbunan.
Karena itu, KPHL Unit II Batam terus membuka ruang kerja sama dengan berbagai pihak untuk mempercepat pemulihan kawasan mangrove.
Baca Juga: BGN Prioritaskan Program MBG di Daerah dengan Angka Stunting Tinggi
“Kami memberikan pendampingan mulai dari pemilihan lokasi, teknik penanaman, sampai pemeliharaan agar tingkat keberhasilan tumbuhnya lebih baik,” ujarnya.
Akar Bhumi Pastikan Mangrove Dipantau Selama Tiga Tahun
Pendiri sekaligus pegiat lingkungan Akar Bhumi Indonesia, Hendrik Hermawan, mengatakan keberhasilan rehabilitasi mangrove sangat bergantung pada proses setelah penanaman.
Menurutnya, banyak program penanaman gagal karena tidak diikuti dengan perawatan dan pemantauan secara rutin.
Karena itu, Akar Bhumi Indonesia menerapkan sistem pemeliharaan selama tiga tahun setelah proses penanaman dilakukan.
“Selama tiga tahun, kami melakukan monitoring setiap dua bulan sekali. Dalam satu lokasi, ada sekitar 18 kali pemantauan untuk melihat perkembangan tanaman,” jelas Hendrik.
Pemantauan tersebut meliputi tingkat kelangsungan hidup bibit, kebutuhan penyulaman, pertumbuhan batang dan daun, hingga kondisi lingkungan sekitar seperti keberadaan sampah dan perubahan sedimentasi.
Seluruh perkembangan tanaman kemudian dicatat dan didokumentasikan sebagai bahan evaluasi.
“Menanam mangrove harus memiliki tanggung jawab sampai tanaman benar-benar tumbuh dan mampu bertahan secara alami,” ujarnya. (*)
Editor : M Tahang