batampos – Muka air Waduk Nongsa terus menyusut. Badan Pengusahaan (BP) Batam mencatat elevasi waduk kini berada di 6,33 meter, atau turun 3,67 meter dari kondisi penuh pada elevasi 10 meter.
Penurunan tersebut membuat BP Batam harus mengatur produksi air baku dari Instalasi Pengolahan Air Minum (IPAM) Nongsa. Produksi yang sebelumnya mencapai 80 liter per detik (lps) kini dikurangi menjadi 50 lps.
Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam Denny Tondano mengatakan, kondisi muka air Waduk Nongsa terus dipantau untuk menjaga ketersediaan cadangan air baku bagi kebutuhan masyarakat.
“Kami terus memantau dinamika elevasi ini untuk memastikan operasional pengolahan air tetap berjalan aman,” kata Denny dalam keterangan tertulis kepada Batam Pos, Minggu (6/9).
Elevasi 6,33 meter tersebut juga lebih rendah dibandingkan laporan awal pegiat lingkungan Akar Bhumi Indonesia (ABI), yang sebelumnya menyebut penyusutan muka air Waduk Nongsa sekitar 2,5 meter.
Menurut Denny, BP Batam secara berkala memantau kondisi seluruh sumber air baku di Batam, termasuk Waduk Nongsa. Pemantauan dilakukan untuk mengetahui perkembangan elevasi sekaligus memastikan cadangan air tetap terjaga.
Penurunan muka air Waduk Nongsa dipengaruhi sejumlah faktor. Di antaranya berkurangnya intensitas hujan di daerah tangkapan air (DTA) Waduk Nongsa, pertumbuhan jumlah pelanggan di kawasan sekitar, serta fenomena El Nino yang diperkirakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berlangsung hingga akhir 2026.
Kondisi tersebut membuat BP Batam melakukan penyesuaian terhadap produksi air di IPAM Nongsa.
“Pengurangan produksi dari 80 lps menjadi 50 lps dilakukan secara bertahap dan terukur untuk menjaga keberlangsungan cadangan air baku,” kata Denny. (*)
Editor : Fiska Juanda