batampos - Kabut menyelimuti Batam pada Senin (14/9) pagi. Di balik kondisi berkabut tersebut, kualitas udara di kota kepulauan ini berada dalam kategori tidak sehat. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 terukur mencapai 82,9 mikrogram per meter kubik.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Hang Nadim Batam meminta masyarakat mewaspadai kondisi tersebut, terutama saat melakukan aktivitas di luar ruangan.
Kepala BMKG Hang Nadim Batam, Ramelan, mengatakan angka PM2.5 tersebut merupakan hasil pemantauan kualitas udara di wilayah Batam. Nilainya telah melampaui ambang yang disebutnya sebagai kondisi normal.
“Pagi ini kualitas udara Batam kategori tidak sehat. Hasil konsentrasi partikulat PM2.5 Batam di angka 82,9 mikrogram per meter kubik,” kata Ramelan, Senin (14/9).
Menurutnya, peningkatan konsentrasi partikulat berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat. Kondisi udara juga perlu menjadi perhatian dalam aktivitas penerbangan apabila jarak pandang ikut terganggu.
Ramelan menjelaskan, kondisi udara di Batam dipengaruhi asap yang terbawa angin dari sejumlah wilayah di daratan Sumatera. Partikel tersebut bergerak mengikuti pola angin hingga mencapai wilayah Kepulauan Riau.
Baca Juga: Dari Batam ke Miss Global 2026, Angela Bawa Identitas Kepri ke Panggung Dunia
Namun, kabut yang terlihat cukup tebal pada pagi hari tidak seluruhnya merupakan asap. Kelembapan udara yang tinggi membuat partikel dan uap air tertahan di dekat permukaan.
“Pada pagi hari udara masih tertahan di permukaan karena adanya kabut akibat udara yang lembap,” ujarnya.
Fenomena tersebut dalam meteorologi dikenal sebagai haze. Embun dan kelembapan tinggi pada pagi hari membuat atmosfer tampak keruh dan jarak pandang berkurang. Kondisi itu diperkirakan berangsur membaik ketika matahari mulai menguat dan sirkulasi udara meningkat pada siang hari.
Ramelan mengatakan konsentrasi PM2.5 dalam kondisi normal berada di bawah 50 mikrogram per meter kubik. Semakin rendah konsentrasinya, semakin baik kualitas udara.
Ia mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan, mengurangi paparan udara luar ketika kualitas udara memburuk. Masker juga disarankan digunakan saat harus beraktivitas di luar ruangan.
Kondisi kualitas udara Batam ini menjadi perhatian di tengah pergerakan asap lintas wilayah Sumatera. (*)
Editor : Yofi Yuhendri