batampos - Aktivitas produksi di PT Ghimli Indonesia, Kawasan Industri Tunas, Batam Kota, masih terhenti. Di tengah ketidakjelasan nasib perusahaan, ratusan pekerja memilih bertahan di lingkungan perusahaan selama sepekan terakhir.
Para pekerja mendirikan tenda, berkumpul di kantin, hingga beristirahat di halaman perusahaan. Mereka mengaku bertahan bukan hanya untuk menuntut pembayaran gaji dan pesangon, tetapi juga menjaga aset perusahaan agar tidak dipindahkan tanpa kejelasan.
Salah seorang pekerja PT Ghimli Indonesia, Pardi, mengatakan para pekerja masih menunggu tindak lanjut DPRD Kota Batam setelah menyampaikan aspirasi pada Jumat (11/9).
Dalam pertemuan tersebut, pekerja berharap DPRD memfasilitasi pertemuan antara pekerja, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), dan manajemen perusahaan untuk membahas persoalan yang mereka hadapi.
Namun, hingga Selasa (15/9), belum ada kepastian mengenai kapan mediasi lanjutan digelar.
“Kami masih menunggu. Katanya akan dibantu dan kasus ini akan dikawal sampai selesai,” kata Pardi, Selasa (15/9).
Baca Juga: Langgar Imigrasi Malaysia, 150 WNI Dipulangkan ke Batam
Menurut dia, persoalan utama yang membebani pekerja adalah gaji yang hingga kini belum dibayarkan. Kondisi tersebut membuat pekerja kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun membayar kewajiban yang telah jatuh tempo.
“Yang nyata sampai hari ini gaji belum masuk. Itu yang menjadi beban seluruh karyawan di sini,” ujarnya.
Pardi menegaskan, para pekerja juga belum menerima keputusan resmi mengenai pemutusan hubungan kerja (PHK). Karena itu, mereka masih menganggap diri sebagai karyawan PT Ghimli Indonesia.
“Jangankan untuk bicara PHK, gaji saja kami belum terima. Nasib kami ke depan juga belum jelas,” katanya.
Ia menyebut para pekerja masih memegang kartu identitas perusahaan dan belum menerima pemberitahuan resmi mengenai berakhirnya hubungan kerja.
Karena itu, sebagian pekerja tetap datang dan bertahan di perusahaan meski kegiatan produksi tidak berjalan.
“Produksi tidak ada. Kami tetap datang karena PHK belum kami terima. Kami masih memegang ID card perusahaan,” ujar Pardi.
Selain menunggu kejelasan status dan pembayaran hak, pekerja juga mengaku bertahan untuk menjaga aset perusahaan. Mereka khawatir aset dikeluarkan sebelum persoalan antara pekerja dan manajemen diselesaikan.
“Walaupun aktivitas produksi tidak berjalan, karena kejelasan dari pihak perusahaan tidak ada, kami jaga asetnya supaya tidak hilang,” katanya.
Baca Juga: Bentrokan Jembatan III Barelang, Enam Orang Diamankan
Aset yang dijaga antara lain mesin produksi seperti mesin jahit dan mesin bordir. Para pekerja berjaga secara bergantian, termasuk pada hari libur.
“Semua keseluruhan yang ada di situ jangan sampai keluar. Itu target kami sebelum ada kejelasan ke depannya seperti apa,” ujarnya.
Pardi mengatakan sejauh ini tidak ada aset atau barang produksi yang diketahui dikeluarkan dari perusahaan. Para pekerja juga mengaku mendapat izin untuk melakukan penjagaan.
Jumlah pekerja yang masih berada di sekitar perusahaan disebut mencapai ratusan orang. Pardi memperkirakan lebih dari 300 pekerja masih bertahan.
Sementara itu, berdasarkan data BPJS yang disebut pekerja, jumlah keseluruhan pekerja PT Ghimli Indonesia mencapai sekitar 1.025 orang. (*)
Editor : Yofi Yuhendri