Hanya delapan pemain. Peralatan latihan sebagian sudah rusak. Tempat berlatih pun belum ideal. Untuk bisa berangkat ke Kuala Lumpur, mereka bahkan harus mengetuk pintu perusahaan dan berbagai pihak, mengajukan proposal demi proposal.
KETERBATASAN itu tidak menghentikan langkah mereka. Selama sekitar enam bulan, anak-anak marching band SMKN 1 Batam berlatih hampir tanpa mengenal hari libur. Sepulang sekolah dan di sela kewajiban Praktik Kerja Lapangan (PKL), mereka kembali berkumpul untuk berlatih. Tak jarang latihan berlangsung hingga malam dan baru selesai sekitar pukul 22.00 WIB.
Semua dilakukan demi satu tujuan: membawa nama SMKN 1 Batam dan Indonesia ke panggung Asian Music Games 2026 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Perjuangan itu akhirnya berbuah medali.
Asian Music Games merupakan kejuaraan marching band tingkat Asia yang digelar 4-13 September 2026 di Kuala Lumpur. Edisi kedua ajang tersebut diikuti peserta dari sejumlah negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Thailand, Taiwan, Sri Lanka, Filipina, dan Vietnam.
Setiap negara hanya diperbolehkan mengirim dua wakil. Indonesia mengirim dua tim, salah satunya SMKN 1 Batam bersama wakil dari Jember.
Tantangan yang dihadapi tim Batam tidak ringan. Mereka turun di Open Division, kategori terbuka tanpa batasan usia. Artinya, para pelajar SMKN 1 Batam harus bersaing dengan klub dan kelompok marching band yang telah berpengalaman di berbagai kompetisi internasional.
Yang membuat perjuangan mereka semakin berat, tim tersebut hanya beranggotakan delapan pemain. Sementara peserta lain membawa 19, 20, bahkan hingga 25 pemain.
“Yang lain 20, 23, 25 orang. Kita satu-satunya tim yang pemainnya hanya delapan orang,” kata Pembina sekaligus Pelatih Marching Band SMKN 1 Batam, Rizky Armando.
Namun jumlah personel bukan penghalang. Delapan pemain itu justru mampu melangkah hingga puncak persaingan.
Mereka turun dalam tiga mata lomba, yakni Solo, Ensemble, dan Battle. Hasilnya, SMKN 1 Batam meraih High Score Gold Medal dengan nilai di atas 85. Mereka juga membawa pulang medali perak pada Battle dan medali perunggu pada Ensemble.
Di balik medali tersebut, tersimpan cerita panjang tentang keterbatasan dan kegigihan.
Berlatih dengan Peralatan Terbatas
Persoalan peralatan menjadi salah satu kendala paling nyata yang dihadapi tim SMKN 1 Batam. Sebagian alat mengalami kerusakan, bahkan ada yang kondisinya sudah cukup berat.
Agar tetap bisa tampil, mereka harus mengakali peralatan yang ada. Sebagian lainnya diperoleh melalui bantuan pinjaman.
“Peralatan yang kita gunakan kondisinya sudah dikatakan tidak baik. Tapi itu pula yang menjadi penyemangat anak-anak untuk bisa juara,” ujar Rizky.
Tempat latihan juga belum sepenuhnya ideal. Mereka terbiasa berlatih di ruang terbuka, sementara arena pertandingan di Kuala Lumpur menggunakan tempat indoor.
Persiapan dilakukan sekitar enam bulan. Bukan sekadar latihan beberapa kali dalam sepekan, melainkan hampir setiap hari.
Hari sekolah tetap dijalani. Kewajiban PKL juga tidak ditinggalkan. Setelah semuanya selesai, para pemain kembali berlatih.
Bahkan hari libur pun tak selalu berarti libur.
“Persiapan enam bulan setiap hari. Hari libur pun tetap latihan. Mereka harus PKL, tapi tetap menyempatkan waktu untuk latihan,” kata Rizky.
Mayoritas pemain yang tampil di Malaysia merupakan siswa kelas XII. Di tengah persiapan kompetisi, mereka tetap harus menyelesaikan tugas sekolah dan memikirkan masa depan pendidikan.
Namun, kesempatan tampil di panggung Asia menjadi alasan mereka untuk bertahan menjalani proses panjang tersebut.
Delapan Orang, Tampil hingga Final
Kepala SMKN 1 Batam Deden Suryana mengaku bangga atas pencapaian para siswanya. Prestasi di Malaysia sekaligus melanjutkan rekam jejak marching band sekolah tersebut di berbagai kompetisi nasional dan internasional.
“Alhamdulillah, anak-anak kita sudah beberapa kali meraih prestasi, baik di Jakarta, di Kepri, maupun yang terakhir di Malaysia. Ini tentu menjadi prestasi yang sangat membanggakan, apalagi mereka bertanding di tingkat internasional dan berhadapan dengan peserta dari beberapa negara,” ujar Deden.
Menurut dia, pencapaian tersebut merupakan hasil dari proses panjang dan latihan disiplin yang dilakukan para siswa bersama pembina.
“Saya sangat bangga dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pembina, guru, dan anak-anak kita yang sudah bekerja keras. Mereka menunjukkan bahwa dengan tekad yang kuat dan komitmen, kita bisa memberikan hasil yang terbaik, bahkan mencapai hasil yang tinggi,” katanya.
Pihak sekolah, lanjut Deden, akan terus memberikan dukungan terhadap pembinaan marching band, baik secara moral maupun sesuai kemampuan sekolah dalam memenuhi kebutuhan material dan peralatan.
“Sebagai pimpinan, tentu saya mendukung kegiatan yang dilakukan guru dan pembina. Kita berikan dukungan moral, material dan peralatan yang dibutuhkan agar anak-anak bisa berkembang dan berhasil dengan baik sesuai bidangnya masing-masing,” ujarnya.
Dukungan orang tua juga menjadi bagian penting dalam perjalanan mereka menuju Malaysia.
“Untuk bisa mengikuti perlombaan di Malaysia tentu ada proses yang harus dilalui. Anak-anak memiliki tekad yang kuat dan mereka membuktikan sendiri hasil dari kerja kerasnya. Orang tua juga memberikan dukungan dan semangat sehingga akhirnya mereka bisa berangkat dan bertanding di Malaysia,” kata Deden.
Panggung Asia Membuka Pintu Baru
Penampilan di Kuala Lumpur ternyata tidak berhenti pada medali. Capaian tersebut membuka peluang baru bagi para pemain SMKN 1 Batam.
Deden mengatakan, setelah tampil di Malaysia, pihaknya mendapat sejumlah tawaran untuk mengikuti kompetisi di level yang lebih tinggi.
“Bahkan sekarang ada beberapa tawaran untuk mengikuti event di level yang lebih tinggi. Ada dari China, Thailand dan beberapa negara lainnya. Ini tentu menjadi kesempatan yang sangat baik bagi anak-anak kita,” katanya.
Menurut Deden, tawaran tersebut menunjukkan bahwa kemampuan para siswa mulai mendapat perhatian di tingkat internasional.
Ia berharap prestasi tersebut menjadi motivasi bagi siswa lain di SMKN 1 Batam untuk berani mengembangkan potensi masing-masing.
“Harapannya, prestasi ini bisa menjadi motivasi. Bahwa anak-anak kita memiliki banyak potensi. Kalau dibina dengan baik, didukung dan mereka memiliki tekad serta komitmen, saya yakin mereka bisa mencapai prestasi yang lebih tinggi lagi,” tuturnya.
Di arena pertandingan, perbedaan dengan peserta lain kembali terasa. Ada tim yang memiliki pengalaman bertanding hingga Amerika Serikat. Ada pula kelompok yang menggunakan konsultan dari negara lain untuk mempersiapkan penampilan.
SMKN 1 Batam datang dengan hanya delapan pemain.
Namun delapan pemain itu mampu tampil hingga final.
Menurut Rizky, selisih nilai dengan peserta yang menjadi juara pertama pun tidak terlalu jauh.
“Yang lain sudah punya pengalaman lomba di Amerika, kita punya pengalaman lomba di Indonesia. Kita adu di situ dan hasilnya ternyata tidak jauh beda,” katanya.
Bukan Akhir Perjalanan
Prestasi di Kuala Lumpur justru membuka halaman baru bagi tim marching band SMKN 1 Batam.
Mereka mendapat welcome invitation dari sejumlah negara, termasuk Thailand, China, dan Filipina. Kesempatan mengikuti kompetisi lain di Indonesia juga terbuka.
Bahkan ada peluang menuju ajang yang lebih tinggi pada 2028 di Filipina. Namun, kesempatan tersebut membutuhkan persiapan dan dukungan yang lebih besar.
Salah satu pemain, Aretha Alencia Julianty Saragih, berharap dukungan terhadap mereka terus mengalir.
“Kami berharap mendapat bantuan dan dukungan sehingga kami bisa kembali bertanding di tingkat yang lebih tinggi lagi,” ujarnya.
Bagi Aretha, prestasi di marching band juga diharapkan bisa menjadi jalan untuk melanjutkan pendidikan.
“Semoga bisa masuk universitas lewat jalur ini,” katanya.
Ia juga berharap perusahaan dan pemerintah ikut memberikan dukungan agar tim dapat kembali tampil di kompetisi dengan level yang lebih tinggi.
“Kami berharap bisa mengikuti event yang lebih tinggi lagi. Kami juga minta bantuan dari perusahaan dan pemerintah untuk bisa mengikuti event di tingkat yang lebih besar lagi,” ujarnya.
Delapan pemain yang membawa nama SMKN 1 Batam di Kuala Lumpur adalah Aretha Alencia Julianty Saragih, Desy Noviyanti Sibuea, Desvita Indri Agustina, Nazwa Ali Safutri, Iqsan Halim Romadhan, Muhamad Aldo Saputra, serta dua alumni, Visnu Aal Firmansyah dan Nurul Hasanah Putri.
Sebelum tampil di Kuala Lumpur, mereka lebih dulu membuktikan kemampuan melalui kejuaraan dunia WMCB 2025 di Jakarta International Velodrome dengan meraih dua medali emas. Prestasi tersebut menjadi salah satu dasar mereka mendapat kesempatan tampil di Asian Music Games.
Kini, medali dari Kuala Lumpur menjadi bukti lain dari perjalanan mereka.
Mereka bukan tim dengan personel terbanyak. Bukan pula tim dengan fasilitas paling lengkap.
Namun, delapan pemain itu mampu berdiri di panggung Asia dan bersaing hingga final.
Kuala Lumpur akhirnya bukan sekadar tempat mereka bertanding. Kota itu menjadi bukti bahwa keterbatasan fasilitas dan jumlah personel tidak menghentikan mereka untuk terus melangkah.
Bagi SMKN 1 Batam, perjalanan itu belum selesai. Thailand, China, Filipina, hingga kompetisi berikutnya sudah menanti.
Yang mereka butuhkan kini bukan sekadar tepuk tangan setelah medali diraih, tetapi dukungan agar langkah delapan pemain yang telah membuktikan kemampuannya di panggung Asia itu bisa terus berlanjut. (*)
Editor : M Tahang