batampos – Penutupan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tanjunguban Selatan 3 di Jalan Indunsuri, Tanjunguban, Kecamatan Bintan Utara, mulai berdampak langsung terhadap para pekerjanya. Salah satunya adalah Nur Rabiatul Adawiyah (24), yang kini harus membuka jasa penitipan anak di rumah demi memenuhi kebutuhan hidup.
Perempuan yang akrab disapa Wia itu mengaku kehilangan mata pencaharian setelah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tempatnya bekerja berhenti beroperasi sejak lebih dari satu setengah bulan lalu.
"Iya saya kehilangan pekerjaan. Rasanya seperti kehilangan separuh napas saya," kata Wia.
Selama bekerja di dapur MBG sebagai petugas pemorsian makanan, Wia menerima upah sekitar Rp120 ribu per hari. Penghasilan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk membeli beras dan membayar tagihan listrik.
"Sejak dapur MBG tutup, keuangan saya benar-benar kritis," ujarnya.
Sebagai anak tunggal, Wia juga menjadi tulang punggung keluarga. Ayahnya sudah tidak lagi bekerja setelah sebelumnya menjadi petugas kebersihan di Pertamina, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga.
Untuk bertahan, Wia membuka jasa penitipan anak di rumahnya di Jalan Mekarsari, Tanjunguban. Layanan tersebut beroperasi mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB dengan tarif sekitar Rp100 ribu per hari.
Namun, jumlah anak yang dititipkan tidak menentu.
"Kadang ada, kadang tidak. Kadang juga hanya dititip per jam," katanya.
Selain itu, mahasiswa Universitas Terbuka jurusan Manajemen tersebut juga mengambil pekerjaan paruh waktu sebagai asisten wedding organizer (WO) guna menambah penghasilan.
Meski telah melamar pekerjaan ke sejumlah perusahaan, hingga kini Wia mengaku belum mendapat panggilan kerja.
"Saya sudah melamar kerja di PT, di mana-mana, tapi belum ada panggilan," ujarnya.
Wia berharap dapur MBG dapat segera kembali beroperasi. Ia bahkan sempat mendatangi pihak SPPG untuk menanyakan perkembangan proses pembukaan kembali layanan tersebut.
"Mereka masih menunggu dari BGN. Katanya ada masalah karena salah input email, jadi prosesnya belum selesai," katanya.
Sebelumnya, Kepala SPPG Tanjunguban Selatan 3, Muhammad Arief, menjelaskan penghentian operasional terjadi akibat proses pergantian Person in Charge (PIC) di Badan Gizi Nasional (BGN).
Menurutnya, akses Virtual Account (VA) BGN masih terhubung dengan alamat email yang bermasalah sehingga transaksi operasional belum dapat dilakukan.
"Ada kendala saat input email sehingga harus diurus ulang. Kami hanya meminta VA dikirim ke email yang benar agar operasional bisa berjalan kembali. Pengajuan sudah dilakukan sejak bulan lalu, tetapi diminta menunggu karena BGN sedang melakukan pembenahan di pusat," jelas Arief.
Akibat penghentian operasional tersebut, sekitar 2.900 penerima manfaat dari 30 sekolah dan tiga posyandu di wilayah Bintan Utara serta Seri Kuala Lobam untuk sementara tidak lagi menerima layanan MBG.
Selain itu, sebanyak 48 pekerja dapur MBG juga harus dirumahkan hingga operasional kembali berjalan. (*)