batampos – Penguatan pengawasan impor dan implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing produk lokal di pasar domestik.
Pengamat ekonomi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Dr. Toto Pranoto, S.E., M.M., mengatakan peluang produk dalam negeri untuk berkembang saat ini semakin terbuka, terutama ketika pelemahan nilai tukar rupiah membuat harga barang impor menjadi lebih mahal.
Namun, menurutnya, momentum tersebut perlu didukung kebijakan yang mampu memberikan perlindungan bagi industri nasional agar mampu bersaing secara sehat.
"Implementasi TKDN adalah kata kunci," kata Toto Pranoto kepada ANTARA di Jakarta, Selasa.
Barang Selundupan Jadi Tantangan
Toto menilai pemerintah perlu memperketat pengawasan di pintu masuk impor untuk mencegah masuknya barang selundupan yang berpotensi merugikan industri dalam negeri.
Menurutnya, maraknya peredaran barang impor ilegal menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi pelaku usaha nasional saat ini.
"Tantangan utama tentu terkait bagaimana industri lokal bisa dilindungi dari produk barang impor selundupan yang sangat marak akhir-akhir ini," ujarnya.
Baca Juga:
Keberadaan barang impor ilegal dinilai dapat menekan daya saing produk lokal karena sering kali dijual dengan harga yang lebih murah tanpa memenuhi berbagai kewajiban dan standar yang berlaku.
UMKM Butuh Kepastian Pasokan Bahan Baku
Selain perlindungan dari produk impor ilegal, Toto menilai pelaku usaha dalam negeri, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), membutuhkan kepastian pasokan bahan baku agar proses produksi dapat berjalan lancar.
Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini masih banyak industri domestik yang bergantung pada bahan baku impor. Karena itu, stabilitas pasokan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlangsungan usaha.
“Ketersediaan bahan baku merupakan aspek yang harus diperhatikan agar pelaku usaha dapat terus berproduksi dan memenuhi kebutuhan pasar,” katanya.
Tingkatkan Efisiensi dan Branding
Meski mendukung perlindungan terhadap industri nasional, Toto mengingatkan bahwa pelaku usaha juga harus terus meningkatkan kemampuan bersaing.
Menurutnya, produsen lokal perlu memperbaiki efisiensi produksi agar mampu menghasilkan produk dengan harga yang kompetitif tanpa mengorbankan kualitas.
Selain itu, akses terhadap sumber bahan baku yang kuat dan berkelanjutan juga diperlukan untuk mengurangi risiko gangguan rantai pasok.
Tak kalah penting, kata Toto, adalah penguatan citra merek atau branding agar produk lokal memiliki nilai tambah di mata konsumen.
“Company branding yang kuat bisa jadi faktor yang menentukan daya saing mereka ke depan,” ujarnya.
Perlu Sinergi Pemerintah dan Pelaku Usaha
Toto menilai penguatan industri nasional tidak dapat hanya mengandalkan kebijakan pemerintah semata. Diperlukan sinergi antara regulator dan pelaku usaha agar produk lokal mampu berkembang secara berkelanjutan.
Kebijakan seperti pengawasan impor, penerapan TKDN, serta dukungan terhadap UMKM perlu dibarengi dengan peningkatan kualitas produk, efisiensi produksi, dan penguatan merek oleh dunia usaha.
Menurutnya, kombinasi kedua aspek tersebut akan menjadi faktor penting dalam memperkuat posisi produk lokal di pasar domestik sekaligus mendorong pertumbuhan industri nasional dalam jangka panjang.
“Sinergi antara kebijakan pemerintah dan peningkatan kapasitas pelaku usaha akan menjadi faktor penting dalam memperkuat posisi produk lokal serta mendorong pertumbuhan industri dalam negeri secara berkelanjutan,” kata Toto. (*)
Editor : Putut Ariyo