batampos – Perusahaan energi terbarukan asal China, GCL Energy Technology (GCL ET), menjajaki peluang pengembangan pusat data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekspansi perusahaan untuk memperkuat bisnis pusat data AI di kawasan Asia Tenggara.
Head of Strategic Development Center GCL Energy Technology, Fanzhong Zeng, mengatakan Asia Tenggara menjadi salah satu fokus utama ekspansi internasional perusahaan, dengan Indonesia, Malaysia, dan Thailand sebagai pasar prioritas.
"Asia Tenggara merupakan salah satu kawasan utama dalam strategi internasional pusat data AI GCL ET, terutama Malaysia, Indonesia, dan Thailand," kata Fanzhong dalam keterangan tertulis, Senin (29/6).
Menurut dia, Indonesia dinilai memiliki prospek besar berkat kedekatannya dengan Singapura, pertumbuhan ekonomi digital yang pesat, serta potensi sumber daya energi yang dapat mendukung operasional pusat data AI.
Fanzhong menjelaskan, keterbatasan lahan dan kapasitas pasokan listrik di Singapura mendorong pengembangan proyek pusat data baru ke negara-negara tetangga, termasuk Indonesia.
Saat ini, GCL ET tengah menjajaki peluang kerja sama dengan mitra lokal di Indonesia dan Malaysia untuk mengembangkan infrastruktur pusat data AI yang didukung pasokan energi berkelanjutan.
Ia menegaskan, pengembangan pusat data AI tidak hanya bergantung pada kebutuhan komputasi, tetapi juga memerlukan pasokan energi yang stabil, efisien, dan ramah lingkungan.
"Setiap pasar memiliki struktur energi, kebutuhan pelanggan, dan ekosistem industri yang berbeda. Karena itu, kami tidak akan sekadar menyalin satu model yang sama, tetapi bekerja sama dengan mitra lokal untuk mencari model yang paling sesuai dengan kondisi pasar setempat," ujarnya.
Integrasikan Energi dan Komputasi
Dalam pengembangan pusat data AI, GCL ET mengusung konsep integrasi energi dan komputasi melalui kombinasi pembangkit listrik tenaga surya, angin, penyimpanan energi, pembangkit listrik berbahan bakar gas, serta infrastruktur komputasi dalam satu ekosistem.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menjawab tantangan penyediaan listrik bagi pusat data AI berskala besar, terutama di wilayah yang kapasitas jaringan listriknya masih terbatas.
Menurut Fanzhong, meningkatnya adopsi AI di berbagai sektor turut mendorong lonjakan kebutuhan daya komputasi, sehingga hubungan antara sektor energi dan teknologi komputasi kini semakin erat.
"Gelombang AI saat ini sejalan dengan strategi kami untuk mengintegrasikan energi dan daya komputasi," katanya.
Dua Strategi Utama
GCL ET menerapkan dua strategi utama dalam pengembangan bisnis tersebut.
Pertama, powering computing, yakni memanfaatkan kemampuan perusahaan di bidang pembangkitan, manajemen, dan perdagangan listrik untuk menyediakan energi yang lebih murah, andal, dan ramah lingkungan bagi pusat data AI.
Kedua, empowering energy with AI, yaitu memanfaatkan teknologi AI untuk meningkatkan efisiensi sektor energi, mulai dari pengelolaan pembangkit energi terbarukan, stasiun pengisian kendaraan listrik, sistem perdagangan listrik, hingga pengaturan beban energi.
"Dengan menggabungkan kedua pendekatan tersebut, kami membangun ekosistem terintegrasi antara energi dan daya komputasi," ujar Fanzhong.
Sejak 2023, GCL ET telah menginvestasikan sekitar 800 juta yuan atau setara Rp2,1 triliun untuk mengembangkan layanan daya komputasi, termasuk membangun infrastruktur AI berbasis sistem NVIDIA A800 dan H800.
Semula dikenal sebagai perusahaan investasi dan layanan energi, GCL ET kini memperluas bisnisnya menjadi penyedia solusi teknologi yang mengintegrasikan sektor energi, komputasi, dan perdagangan listrik untuk mendukung perkembangan industri AI global. (*)
Editor : Jamil Qasim