Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Mau Nonton Pacu Laut di Belakang Padang, Penambang Pancung Panen Rezeki

Rengga Yuliandra • Selasa, 19 Agustus 2025 | 11:30 WIB
Calon penumpang dari Batam menuju Belakangpadang antre menungu giliran diangkut penambang pancung.
Calon penumpang dari Batam menuju Belakangpadang antre menungu giliran diangkut penambang pancung.

batampos– Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Republik Indonesia menjadi momen penuh berkah bagi para penambang pancung di Batam. Digelarnya Lomba Sampan Layar, Ketinting, dan Speedboat Race di perairan Belakang Padang, Batam membuat aktivitas transportasi laut tradisional ini meningkat tajam.

Sejak pagi, ponton pelabuhan dipadati warga yang ingin menyeberang untuk menyaksikan pacu laut lebih dekat. Antrean panjang penumpang bahkan menjalar hingga ke luar dermaga. Kapal pancung silih berganti berangkat, nyaris tanpa henti.

“Biasanya kami hanya antar satu kapal sehari. Tapi kalau ada lomba seperti ini bisa sampai tujuh hingga delapan kali, bahkan lebih. Dari tadi tidak ada berhenti jalan,” kata Heri, salah seorang penambang pancung dengan raut wajah lelah namun bahagia, Minggu (17/8).

Bagi mereka, momentum 17 Agustus selalu identik dengan lonjakan penumpang. Tidak hanya sekadar mengantar orang dari satu titik ke titik lain, tetapi juga menghubungkan masyarakat dengan tradisi bahari yang sudah turun-temurun.

“Kalau ada pacu laut, suasananya berbeda. Penumpang ramai, rezeki pun ikut mengalir. Inilah momen yang selalu ditunggu-tunggu,” ujar Iwan, penambang lainnya yang sejak pagi sudah bolak-balik mengemudikan perahu.

Kehadiran lomba pacu laut menjadi daya tarik utama bagi ribuan warga. Mereka rela antre panjang demi bisa menonton jalannya perlombaan. Bagi penambang, setiap trip berarti tambahan penghasilan yang cukup signifikan dibandingkan hari-hari biasa.

Tidak jarang, dalam sehari penuh perahu pancung bisa pulang-pergi berkali-kali. Kondisi ini jauh berbeda dengan rutinitas biasa di mana penumpang relatif sepi.“Kalau hari biasa, paling bawa dua atau tiga orang saja. Tapi sekarang, sekali jalan bisa penuh. Jadi lebih semangat narik pancung,” tambahnya.

Meski pekerjaan mereka sederhana, penambang pancung merasa bangga bisa ikut terlibat dalam meramaikan tradisi bahari. Selain menjadi tumpuan transportasi bagi penonton, mereka juga menjadi bagian dari denyut kehidupan laut Batam yang kental dengan budaya maritim.

“Laut bukan hanya tempat mencari ikan, tapi juga ruang kebersamaan. Dari sini, semua orang bisa merasakan kemeriahan HUT RI,” sebut pria yang mengaku sudah puluhan tahun menggantungkan hidup dari pancung.

Perayaan HUT RI kali ini pun menegaskan bahwa tradisi dan laut adalah urat nadi kehidupan masyarakat pesisir. Dan bagi penambang pancung, setiap riuh sorak-sorai pacu laut selalu membawa satu arti: rezeki yang berlipat dan semangat yang tak pernah padam.

Camat Belakang Padang Abdul Hanafi menegaskan bahwa setiap gelaran tradisi bahari selalu memberi efek positif terhadap ekonomi masyarakat pesisir.“Setiap kali ada pacu laut, para pedagang makanan, penjual minuman, hingga penyedia jasa transportasi laut merasakan lonjakan rezeki. Inilah bukti bahwa tradisi bahari bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga penggerak ekonomi lokal,” jelasnya. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#pacu laut belakangpadang