Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Pedagang Kantin Sekolah di Lobam, bintan, Tidak Jualan Nasi Lagi, Imbas Program MBG

Slamet Nofasusanto • Rabu, 24 September 2025 | 06:15 WIB
Kantin SDN 006 Kecamatan Seri Kuala Lobam di Kampung Sukadamai, Desa Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Selasa (23/9/2025).
Kantin SDN 006 Kecamatan Seri Kuala Lobam di Kampung Sukadamai, Desa Teluk Sasah, Kecamatan Seri Kuala Lobam, Selasa (23/9/2025).

batampos- Beberapa pedagang di kantin sekolah tidak berjualan nasi lagi imbas program makan bergizi gratis (MBG) yang sudah berjalan lima hari di Kecamatan Seri Kuala Lobam.

Salah seorang pedagang di kantin SDN 006 Kecamatan Seri Kuala Lobam, Romi merasakan dampak langsung dari program MBG.

Awalnya, ia bisa mendapatkan penghasilan kurang lebih Rp 60.000 per hari dari berjualan nasi liwet seharga Rp 2.000 per porsi.

Namun sejak MBG dimulai, pembeli semakin sepi. Ia akhirnya memutuskan untuk tidak menjual nasi liwet lagi dan saat ini berjualan kue, sosis bakar, minuman dan lainnya.

Ia juga mengaku penghasilannya menurun.

"Biasanya Rp 100 ribu-an per hari, sekarang puluhan ribu saja," ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Radiah, pedagang lain di kantin SDN 006 Kecamatan Seri Kuala Lobam.

Sebelumnya, ia berjualan nasi dan bubur sumsum di kalangan siswa. Ia biasanya membawa 20 porsi nasi dan 15 porsi bubur dengan harga Rp 2.000 per porsi.

Namun, setelah program MBG dimulai, dagangannya sepi pembeli.

"Kalau dulu anak-anak nyari nasi dan bubur, tapi karena anak-anak sudah dapat MBG, jadinya nasi dan bubu tidak laku lagi," katanya.

Kini, ia berjualan kue dan penghasilannya juga menurun, dari puluhan ribu hingga Rp 100 ribu per hari menjadi hanya puluhan ribu.

"Harapannya, perhatian dari pemerintah untuk pedagang seperti kita," katanya dengan nada pasrah.

Seorang siswa penerima manfaat program MBG di SDN 006 Kecamatan Seri Kuala Lobam mengatakan, kini ia tidak lagi membawa bekal dari rumah sejak adanya program MBG.

Meski begitu, ia masih menerima uang jajan Rp 3.000 per hari untuk membeli jajanan di sekolah. (*)

Editor : Tunggul Manurung
#kantin sekolah