Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Setahun Air Tak Lancar, Warga Tanjung Sengkuang Harus Begadang Tampung Air

Muhammad Syaban • Kamis, 22 Januari 2026 | 06:30 WIB
Warga Perumahan Bukit Raya, Batam Kota, mengantre menampung air dari sumur bor di Masjid Al Hikmah, beberapa waktu lalu. Krisis air bersih juga melanda wilayah Bengkong dan Batuampar.
Warga Perumahan Bukit Raya, Batam Kota, mengantre menampung air dari sumur bor di Masjid Al Hikmah, beberapa waktu lalu. Krisis air bersih juga melanda wilayah Bengkong dan Batuampar.

batampos - Krisis air bersih masih menghantui warga Perumahan GMP RT 1 RW 4, Tanjung Sengkuang, Kecamatan Batuampar, Kota Batam. Sudah hampir satu tahun terakhir, aliran air ke permukiman tersebut bermasalah.

Debit air kerap mengecil, hanya mengalir pada jam-jam tertentu, hingga akhirnya mati total dalam 20 hari terakhir.

Salah seorang warga, Naza Maria, mengatakan dalam satu tahun terakhir air hanya mengalir pada malam hari, itupun dalam waktu yang sangat singkat. Sementara pada siang hari, air nyaris tidak pernah mengalir.

“Dalam setahun ini air cuma hidup malam. Siang mati. Kalau mati satu atau dua hari masih bisa kami maklumi. Tapi ini hampir dua bulan, hidupnya cuma jam tiga pagi, jam empat sudah mati lagi,” ujar Naza, Selasa (20/1) sore.

Kondisi tersebut memaksa warga menampung air sebisanya saat air mengalir. Bahkan, ketika air mati selama berhari-hari, warga harus bergotong royong mengambil air dari tampungan milik tetangga.

Menurut Naza, selama krisis berlangsung memang ada bantuan air tangki dari Air Batam Hilir (ABH). Namun distribusinya dinilai tidak merata dan kerap tidak sampai ke seluruh warga.

“Dalam sehari katanya ada empat mobil tangki, tapi airnya tidak sampai ke semua warga. Akhirnya kami tetap ambil air dari tampungan warga lain,” katanya.

Di RT 1 yang dihuni sekitar 60 kepala keluarga, warga hanya mendapatkan satu drum air sebagai penyangga darurat. Jumlah tersebut jauh dari cukup. Bahkan, ketika satu mobil tangki datang, warga terpaksa berebut air.

“Kami bertahan pakai air tampungan. Hampir setahun ini hidup kami bergantung dari air yang ditampung sendiri,” ucap Naza.

Menanggapi keluhan tersebut, Humas Air Batam Hilir (ABH), Ginda Alamsyah, menyampaikan bahwa pihaknya memahami ketidaknyamanan yang dialami warga dan menjadikannya sebagai perhatian serius.

Ginda menjelaskan, secara umum Kota Batam tidak mengalami kekurangan sumber air baku. Saat ini terdapat sembilan waduk, dengan tujuh di antaranya aktif beroperasi dan menghasilkan total produksi sekitar 4.200 liter per detik.

“Artinya, secara prinsip ketersediaan air mencukupi. Permasalahan utama bukan pada sumber air, tetapi pada sistem distribusi dan infrastruktur pendukung,” ujar Ginda.

Ia menegaskan, pengembangan sistem air minum tidak hanya bergantung pada kapasitas waduk, tetapi juga memerlukan perluasan dan penguatan jaringan distribusi yang membutuhkan investasi besar dan perencanaan bertahap.

Sebagai operator operasi dan pemeliharaan, PT ABHi bersama PT ABHu bertugas menjaga agar sistem jaringan air minum yang ada tetap berfungsi optimal. Namun, untuk meningkatkan suplai air ke wilayah Tanjung Sengkuang dan sekitarnya, dibutuhkan pembangunan infrastruktur baru, seperti pemasangan jaringan pipa tambahan.

“Kami terus berkoordinasi dengan BP Batam melalui Badan Usaha SPAM Batam sebagai pemilik aset dan pengambil kebijakan strategis,” jelasnya.

Ginda menyebutkan, kawasan Tanjung Sengkuang masuk dalam kategori stress area, yakni wilayah dengan tekanan air rendah yang telah menjadi persoalan cukup lama. Dari total 32 titik stress area yang sebelumnya dikelola pengelola lama, saat ini masih terdapat 18 titik yang menjadi tanggung jawab BP Batam dan belum sepenuhnya terselesaikan.

“Dalam tiga tahun terakhir, lima titik stress area berhasil diselesaikan. Sisanya masih menunggu realisasi anggaran,” katanya.

Sebagai solusi jangka menengah, telah direncanakan pembangunan pipa tambahan dari waduk menuju Tangki Ozon dan Tangki Bukit Senyum, yang menjadi pusat distribusi utama untuk wilayah Tanjung Sengkuang dan sekitarnya. Proyek ini diharapkan dapat mengoptimalkan operasi Tangki Ozon dengan kapasitas total 12.000 meter kubik.

“Jika sistem ini sudah berfungsi penuh, kebutuhan air di Tanjung Sengkuang dan sekitarnya diharapkan bisa terpenuhi lebih baik,” ujar Ginda.

Sambil menunggu penyelesaian infrastruktur permanen tersebut, ABH menyatakan tetap melaksanakan pengiriman air melalui mobil tangki sebagai langkah darurat untuk meringankan beban warga.

“Ke depan, sejumlah pekerjaan strategis telah diprogramkan, termasuk peningkatan suplai air dan pengembangan jaringan perpipaan untuk pasokan air berkelanjutan,” kata dia. (*)

Editor : Ahmadi Sultan
#krisis air bersih batam