Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Trump: Iran Sudah Setuju Tak Miliki Senjata Nuklir

Antara • Kamis, 7 Mei 2026 | 11:01 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers sebelum berangkat dari Gedung Putih menuju Florida pada 1 Mei 2026, di Washington, DC. ANTARA/Celal Güneń - Anadolu Agency/pri. (ANTARA/Celal Güneń - Anadolu Agency/pri)
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara kepada pers sebelum berangkat dari Gedung Putih menuju Florida pada 1 Mei 2026, di Washington, DC. ANTARA/Celal Güneń - Anadolu Agency/pri. (ANTARA/Celal Güneń - Anadolu Agency/pri)

batampos - Donald Trump menyatakan peluang tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah semakin terbuka. Trump mengklaim pembicaraan kedua pihak dalam 24 jam terakhir berjalan sangat positif.

Pernyataan itu disampaikan Trump di Ruang Oval, Rabu (6/5/2026), di tengah meningkatnya upaya diplomasi untuk mengakhiri perang yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.

“Kami melakukan pembicaraan yang sangat baik selama 24 jam terakhir, dan sangat mungkin kami akan mencapai kesepakatan,” ujar Trump.

Menurut Trump, Iran menunjukkan keinginan kuat untuk mencapai penyelesaian diplomatik. Namun, ia menegaskan setiap kesepakatan harus memastikan Teheran tidak memiliki senjata nuklir.

“Iran tidak dapat memiliki senjata nuklir, dan mereka tidak akan memilikinya. Mereka telah menyetujuinya,” katanya.

Meski optimistis, Trump tetap melontarkan peringatan keras kepada Iran. Dalam wawancara sebelumnya dengan stasiun televisi PBS, ia menegaskan bahwa jika negosiasi gagal, opsi militer tetap terbuka.

“Jika mereka setuju, semuanya selesai. Jika tidak, kami akan menjatuhkan bom,” tegasnya.

Trump juga membantah laporan yang menyebut Washington bersedia mengizinkan Iran tetap melakukan pengayaan uranium hingga level 3,67 persen. Menurut dia, hal tersebut bukan bagian dari kerangka negosiasi saat ini.

Sementara itu, pemerintah Iran menyatakan proposal terbaru dari AS yang disampaikan melalui mediasi Pakistan masih dalam tahap peninjauan internal.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran akan menyampaikan sikap resminya setelah proses evaluasi selesai.

“Kami masih memeriksa usulan tersebut dan akan menyampaikan hasil peninjauan kepada pihak Pakistan,” ujar Baghaei kepada media semi-resmi ISNA.

Media AS, Axios, melaporkan bahwa Washington dan Teheran disebut hampir mencapai kesepakatan awal untuk menghentikan konflik sekaligus membuka jalan bagi negosiasi nuklir yang lebih luas.

Dalam draf pembahasan itu, kedua pihak disebut tengah merancang memorandum penghentian perang yang akan diikuti masa negosiasi lanjutan selama 30 hari.

Negosiasi selanjutnya diperkirakan akan membahas sejumlah isu krusial, mulai dari pembukaan kembali jalur pelayaran di Strait of Hormuz, pembatasan program nuklir Iran, hingga pencabutan sanksi ekonomi AS terhadap Teheran.

Kota Islamabad dan Geneva disebut menjadi kandidat lokasi perundingan berikutnya.

Berdasarkan laporan tersebut, Iran bersedia menerapkan moratorium pengayaan uranium, sementara AS akan melonggarkan sanksi secara bertahap serta membuka akses terhadap miliaran dolar dana Iran yang selama ini dibekukan.

Namun, durasi moratorium masih menjadi perdebatan. Iran disebut mengusulkan jangka waktu lima tahun, sedangkan AS menginginkan pembatasan hingga 20 tahun.

Selain isu nuklir, pembicaraan juga mencakup ketegangan di Selat Hormuz, termasuk penghentian pembatasan pelayaran oleh Iran dan blokade angkatan laut AS di kawasan tersebut.

Meski belum menghasilkan kesepakatan final, sejumlah pejabat AS menilai pembicaraan kali ini menjadi momentum paling dekat menuju penyelesaian konflik sejak perang pecah beberapa bulan lalu. (*)

Editor : Jamil Qasim
#Senjata Nuklir #trump #iran