IRGC Klaim Drone Bawah Laut AS Tak Bisa Lolos dari Pengawasan Iran

jpg • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 15:01 WIB
Ilustrasi kapal tanker di perairan Selat Hormuz. (AP Photo/Kamran Jebreili)
Ilustrasi kapal tanker di perairan Selat Hormuz. (AP Photo/Kamran Jebreili)

batampos – Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengklaim tidak ada teknologi canggih, termasuk milik Amerika Serikat (AS), yang mampu menghindari sistem pengawasan Iran di kawasan Selat Hormuz.

Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, mengatakan penemuan drone bawah laut militer AS menjadi bukti kemampuan sistem pengawasan Iran di jalur strategis tersebut.

“Penemuan drone bawah laut militer AS yang canggih pada pagi hari menunjukkan bahwa tidak ada teknologi canggih yang dapat melewati lapisan sistem pengawasan kami di Selat Hormuz,” kata Mohebbi, seperti dilansir Antara, Rabu (9/9/2026).

Sebelumnya pada hari yang sama, IRGC menyatakan telah menyita drone bawah laut AS jenis Dive-LD di pintu masuk Selat Hormuz. IRGC juga memublikasikan foto perangkat yang disebut sebagai drone militer tersebut.

Klaim itu disampaikan di tengah ketegangan yang masih berlangsung antara Iran dan AS.

Pada 28 Februari 2026, pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran di Iran. Serangan tersebut kemudian dibalas oleh Iran.

Pada pertengahan Juni, Teheran dan Washington dilaporkan menandatangani memorandum yang bertujuan menghentikan permusuhan. Namun, ketegangan kembali meningkat setelah kedua pihak kembali saling melancarkan serangan.

Hingga kini, konflik antara kedua negara belum sepenuhnya terselesaikan dan bentrokan maupun ketegangan masih terjadi secara berkala.

AS Tingkatkan Tekanan Ekonomi

Di tengah konflik tersebut, Washington memilih meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran.

Langkah tersebut dilakukan dengan menambah tekanan finansial terhadap Teheran sebagai bagian dari upaya AS untuk mendorong berakhirnya konflik.

Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia. Kawasan tersebut menjadi titik penting bagi lalu lintas kapal tanker yang membawa minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia menuju pasar internasional.

Karena itu, setiap peningkatan ketegangan militer di sekitar Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak terhadap keamanan pelayaran dan pasar energi global. (*)

Editor : Jamil Qasim
IRGC iran