Bahkan, dalam dunia psikologi, menggigit kuku bisa jadi tanda adanya gangguan mental tertentu. Benarkah demikian? Yuk, kita bahas bersama!
Apa Itu Onychophagia?
Onychophagia adalah kebiasaan menggigit kuku secara berulang, baik saat sadar maupun tidak. Ini termasuk dalam perilaku kompulsif, dan bisa memengaruhi kuku, gusi, hingga kulit di sekitar jari.
Pada banyak kasus, kebiasaan ini dimulai sejak masa kanak-kanak dan bisa berlanjut hingga dewasa jika tidak ditangani.
Mengapa Orang Menggigit Kuku?
Ada banyak alasan di balik kebiasaan ini, seperti:
- Rasa cemas atau stres
- Kebosanan atau kegelisahan
- Kebutuhan untuk melampiaskan energi
- Kebiasaan refleks tanpa disadari
Tapi... kalau terlalu sering, bisa jadi ada sesuatu yang lebih serius di baliknya.
Terkait Gangguan Mental? Ini Faktanya
Dalam dunia psikologi, kebiasaan menggigit kuku yang berlebihan bisa dikaitkan dengan beberapa kondisi berikut:
- Gangguan Kecemasan (Anxiety Disorders)
Banyak orang menggigit kuku sebagai respons terhadap stres atau kecemasan. Ini menjadi cara tubuh meredakan tekanan, meski efeknya justru merusak diri sendiri.
- Gangguan Obsesif-Kompulsif (OCD)
Menggigit kuku secara kompulsif juga bisa menjadi bagian dari gejala OCD, terutama jika dilakukan secara berulang dan sulit dikendalikan meskipun tahu itu merusak.
- Gangguan Impulsif
Onychophagia termasuk dalam kategori Body-Focused Repetitive Behaviors (BFRBs), bersama dengan kebiasaan mencabut rambut (trichotillomania) atau mengelupas kulit (dermatillomania).
Fakta menarik: American Psychiatric Association pernah mengklasifikasikan menggigit kuku berlebihan sebagai salah satu bentuk perilaku kompulsif.
Apa Dampaknya Jika Dibiarkan?
Menggigit kuku bukan hanya soal penampilan. Ini bisa menimbulkan dampak kesehatan seperti:
- Infeksi pada kuku atau gusi
- Luka terbuka di sekitar jari
- Masalah pada gigi (gigi aus, geser, atau rusak)
- Penularan kuman dari tangan ke mulut
Cara Menghentikan Kebiasaan Ini
Kalau kamu atau orang terdekat punya kebiasaan ini, berikut beberapa cara yang bisa dicoba:
- Gunakan kuteks pahit khusus (nail bitter polish)
- Cari pengalih stres seperti stress ball, spinner, atau aktivitas tangan lain
- Latih teknik relaksasi seperti napas dalam atau meditasi
- Konsultasi dengan psikolog jika kebiasaan sangat sulit dikendalikan
Ya, menggigit kuku bisa jadi tanda gangguan mental, terutama jika dilakukan secara kompulsif dan terus-menerus. Tapi jangan buru-buru panik—setiap orang bisa punya kebiasaan kecil yang jadi pelarian dari stres. Kuncinya adalah menyadari, mengelola, dan mencari bantuan jika perlu. (*)
Editor : Ichwanul Fazmi