Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

RSBP Batam Buka Layanan Jantung Bawaan Dewasa Nonbedah, Pertama di Kepri

Rengga Yuliandra • Minggu, 8 Februari 2026 | 15:30 WIB
RSBP Batam melaksanakan tindakan intervensi penyakit jantung bawaan tanpa bedah terbuka bagi pasien dewasa, perdana di Kepulauan Riau, dengan pendampingan tim dokter tamu. F. RSBP Batam
RSBP Batam melaksanakan tindakan intervensi penyakit jantung bawaan tanpa bedah terbuka bagi pasien dewasa, perdana di Kepulauan Riau, dengan pendampingan tim dokter tamu. F. RSBP Batam

batampos – Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam mencatat tonggak baru layanan kesehatan di Kepulauan Riau. Pada 2026, RSBP Batam untuk pertama kalinya menangani penyakit jantung bawaan (PJB) pada pasien dewasa tanpa bedah terbuka, layanan yang sebelumnya hanya tersedia untuk pasien anak atau harus dirujuk ke luar daerah.

Salah satu pasien yang menjalani tindakan tersebut adalah Nurdiana, perempuan asal Tanjungpinang yang baru mengetahui mengidap penyakit jantung bawaan setelah hidup selama 22 tahun tanpa diagnosis. Ia menjalani tindakan intervensi non-invasif dan kini dinyatakan dalam kondisi baik.

Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSBP Batam, dr. Muhammad Yanto, mengatakan layanan ini menjadi terobosan penting bagi masyarakat Kepri yang selama ini bergantung pada rumah sakit rujukan nasional.

“Ini menjadi pertama kalinya di Batam, khususnya di RSBP Batam, dilakukan tindakan penyakit jantung bawaan untuk pasien dewasa. Kalau sebelumnya hanya anak-anak, sekarang usia di atas 18 tahun sudah bisa kami tangani di sini,” ujarnya, Sabtu (7/2).

Pelaksanaan layanan perdana dilakukan melalui program proctorship dengan pendampingan dokter tamu. Sebanyak enam pasien dewasa menjalani tindakan intervensi di fasilitas catheterization laboratory (cathlab) RSBP Batam setelah melalui proses skrining medis ketat sesuai standar keselamatan pasien.

Muhammad Yanto menjelaskan, perbedaan utama layanan ini terletak pada kompetensi tenaga medis yang mampu menangani kelainan jantung bawaan lintas kelompok usia.

“Untuk anak, sebelumnya sudah dilakukan oleh dokter spesialis anak konsultan jantung. Di RSBP Batam, tindakan ini ditangani dokter spesialis jantung konsultan penyakit jantung bawaan yang mampu menangani pasien dari anak hingga dewasa secara non-invasif. Ini yang pertama di Kepulauan Riau,” jelasnya.

Dokter tamu, Radityo Prakoso, Sp.JP(K), FIHA, mengungkapkan antrean pasien penyakit jantung bawaan di pusat rujukan nasional masih sangat tinggi.

“Di Jakarta saja, sekitar 6.000 bayi masih menunggu penanganan penyakit jantung bawaan. Dengan keterbatasan kapasitas layanan, tidak semua pasien tertangani optimal, bahkan ada yang meninggal sebelum mendapat jadwal tindakan,” ungkapnya.

Menurut Radityo, kehadiran layanan intervensi PJB di daerah seperti RSBP Batam menjadi solusi strategis agar pasien tidak sepenuhnya bergantung pada rumah sakit rujukan nasional.

Sementara itu, Ketua Kelompok Staf Medis (KSM) Kardiologi RSBP Batam, Afdalun Hakim, SpJP, menyebut angka kejadian penyakit jantung bawaan di Indonesia berkisar 8–10 kasus per 1.000 kelahiran hidup, sementara jumlah tenaga medis dan fasilitas penanganannya masih terbatas.

“Kondisi ini membuat penanganan penyakit jantung bawaan turut dibantu oleh berbagai lembaga dan yayasan sosial. Karena itu, penguatan layanan PJB di rumah sakit daerah menjadi sangat penting,” katanya.

Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Fellowship Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan, dr. Priyandini Wulandari, menjelaskan salah satu pasien dewasa yang ditangani sebelumnya tidak memiliki keluhan dan baru terdeteksi setelah pemeriksaan rontgen saat medical check-up menunjukkan pembesaran jantung.

“Pasien tersebut diketahui telah hidup dengan penyakit jantung bawaan selama 22 tahun tanpa terdiagnosis. Kami melakukan tindakan penutupan patent ductus arteriosus menggunakan metode kateterisasi tanpa operasi. Alhamdulillah, tindakan berjalan lancar dan pasien sudah diperbolehkan pulang,” jelasnya.

Ia menegaskan, RSBP Batam kini telah siap melayani tindakan intervensi penyakit jantung bawaan mulai dari usia neonatus hingga dewasa.

Nurdiana mengaku bersyukur karena dapat menjalani pengobatan di Batam dengan jaminan BPJS Kesehatan.

“Alhamdulillah bisa ditangani di RSBP Batam. Semoga teman-teman yang punya penyakit sama tidak putus asa dan bisa berobat di sini,” ujarnya.

Selain pelayanan medis, kegiatan ini juga menjadi sarana alih pengetahuan bagi dokter dan tenaga kesehatan internal RSBP Batam agar layanan penyakit jantung bawaan dapat dikembangkan secara mandiri dan berkelanjutan. Ke depan, RSBP Batam diharapkan menjadi rumah sakit rujukan regional penanganan penyakit jantung bawaan di Kepulauan Riau. (*)

Editor : M Tahang
#bedah terbuka #penyakit jantung #RSBP Batam