Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Festival Rujak Uleg 2026 Surabaya, Perpaduan Tradisi, Ekonomi Kreatif, dan Identitas Kota

Antara • Minggu, 10 Mei 2026 | 17:07 WIB
Beberapa peserta festival Rujak Uleg 2026 dan pengunjung mulai memadati lokasi.(ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)
Beberapa peserta festival Rujak Uleg 2026 dan pengunjung mulai memadati lokasi.(ANDY SATRIA/RADAR SURABAYA)

batampos – Festival Rujak Uleg 2026 kembali menjadi pusat perhatian warga dalam perayaan Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733. Digelar di Surabaya Expo Center, Sabtu (9/5) malam, festival kuliner khas ini menghadirkan ribuan pengunjung dalam suasana meriah yang memadukan budaya, kuliner, dan kreativitas masyarakat.

Aroma khas rujak cingur dengan campuran petis, terasi, dan buah segar berpadu dengan sorak pengunjung serta kostum bertema sepak bola dunia yang menambah semarak acara bertajuk “Rujak Phoria” tersebut.

Festival ini tidak hanya menjadi ajang kuliner, tetapi juga ruang ekspresi budaya yang terus berkembang di Kota Surabaya. Konsep “Rujak Phoria” menjadi simbol perpaduan antara tradisi lokal dan sentuhan modern yang lebih global.

Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, hadir langsung di tengah masyarakat dan berinteraksi dengan berbagai elemen, mulai dari pengurus RW, komunitas kampus, hingga pelaku UMKM. Kehadiran tersebut memperkuat pesan bahwa festival ini merupakan ruang publik bersama, bukan sekadar seremoni formal.

 

Dorong Ekonomi Kreatif dan Pariwisata

Secara ekonomi, Festival Rujak Uleg telah berkembang menjadi salah satu penggerak sektor kreatif di Surabaya. Data penyelenggaraan sebelumnya mencatat perputaran ekonomi mencapai lebih dari Rp1 miliar dengan puluhan ribu pengunjung.

Tahun ini, dampaknya diperkirakan meningkat seiring masuknya festival dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN), yang memperluas jangkauan promosi hingga tingkat nasional.

Keterlibatan hotel, UMKM, industri kuliner, hingga agen perjalanan menunjukkan efek berantai dari penyelenggaraan festival ini. Rujak Uleg kini tidak hanya menjadi festival kuliner, tetapi juga bagian dari ekosistem pariwisata kota.

Namun demikian, sejumlah pengamat menilai transformasi budaya ke dalam industri pariwisata perlu tetap menjaga nilai otentik agar tidak kehilangan makna sosialnya.

 

Tantangan Tata Kelola dan Keberlanjutan

Di balik kemeriahan, tantangan tata kelola juga menjadi perhatian, terutama dalam pengaturan mobilitas pengunjung, keamanan, dan pengelolaan lingkungan.

Pemerintah Kota Surabaya telah menyiapkan kantong parkir serta pengaturan lalu lintas di sekitar Surabaya Expo Center. Namun, pengelolaan sampah dan dampak lingkungan dinilai masih menjadi tantangan yang perlu terus diperkuat.

Integrasi festival dalam agenda nasional juga menuntut standar penyelenggaraan yang lebih profesional, inklusif, dan berkelanjutan, termasuk dalam aspek lingkungan dan distribusi manfaat ekonomi.

Ke depan, penguatan konsep keberlanjutan seperti pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan limbah kuliner, hingga optimalisasi transportasi publik menjadi langkah penting.

Festival Rujak Uleg 2026 pun menegaskan posisi Surabaya sebagai kota yang terus berinovasi melalui budaya, sekaligus menjaga identitas lokal di tengah arus globalisasi. (*)

Editor : Putut Ariyo
#Ekonomi Kreatif #Surabaya #Festival Rujak Uleg #Budaya Jawa Timur #HJKS