Program MBG Jadi Sorotan Demo di Jakarta, Mahasiswa Tuntut Pekerjaan Layak

JawaPos • Dipublikasikan Selasa, 20 Oktober 2026 | 21:30 WIB
Seorang orator menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10) sore. (JawaPos)
Seorang orator menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10) sore. (JawaPos)

batampos – Ratusan mahasiswa dan masyarakat sipil yang tergabung dalam sebuah aliansi mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam aksi demonstrasi di kawasan Tugu Tani, Jakarta Pusat, Selasa (20/10) sore. Massa menilai pemberian makanan gratis perlu diiringi upaya mengatasi ketimpangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Aksi yang berlangsung di dekat kantor Badan Gizi Nasional (BGN) itu sempat diwarnai sorotan terhadap videotron yang menampilkan promosi program MBG. Keberadaan media promosi tersebut menjadi bahan kritik para demonstran yang menilai persoalan kesejahteraan masyarakat tidak cukup diselesaikan melalui bantuan makanan.

Dalam orasinya, salah seorang perwakilan massa menyoroti kondisi keluarga yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, meskipun anak-anak mereka mendapatkan makan siang gratis dari pemerintah.

“Ada adik-adik kita yang makan siangnya dibayari oleh negara, tapi dia pulang ke rumah tidak bisa makan malam karena orang tuanya pengangguran,” ujar orator dari atas mobil komando.

Ia menambahkan, persoalan mendasar yang dihadapi sebagian masyarakat berkaitan dengan ketidakpastian pendapatan, terutama bagi keluarga yang bergantung pada pekerjaan tidak tetap.

“Pulang-pulang ke rumah tidak tahu hendak makan malam apa karena orang tuanya bekerja serabutan. Hari ini bekerja dapat upah, besok sakit tidak bekerja tidak dapat upah,” lanjutnya.

Menurut dia, masyarakat membutuhkan lapangan kerja yang memadai dan upah layak agar mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.

“Maka yang kita butuhkan adalah pekerjaan yang layak. Sehingga pendapatan kita menjadi layak dan bisa membeli makan,” tegasnya.

Dalam aksi tersebut, massa yang hadir tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa, tetapi juga melibatkan berbagai elemen masyarakat, termasuk akademisi, buruh, dan pengemudi ojek daring. Kehadiran berbagai kelompok itu disebut sebagai bentuk penyampaian aspirasi bersama mengenai persoalan sosial dan ekonomi.

“Hari ini yang turun ke jalanan bukan hanya mahasiswa, tapi mereka yang menjadi profesional, mereka yang menjadi akademisi, mereka yang sehari-hari bekerja sebagai buruh, mereka yang menjadi ojek online, seluruh elemen masyarakat sudah turun,” ungkapnya.
Lima Tuntutan Mahasiswa
Wakil Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Fathimah Azzahra, menjelaskan bahwa kawasan Tugu Tani dipilih sebagai lokasi aksi karena memiliki makna simbolis terkait perjuangan rakyat.

Menurut Fathimah, tuntutan yang disampaikan dalam demonstrasi tersebut berangkat dari persoalan mendasar yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Kami merasa Tugu Tani punya simbol yang paling sempurna untuk ini, karena yang kami tuntut hal-hal yang betul-betul dirasakan oleh rakyat secara langsung,” ujar Fathimah di Tugu Tani, Jakarta, Selasa (20/10).

Dalam aksi tersebut, aliansi mahasiswa menyampaikan lima tuntutan kepada pemerintah, yakni:
1. Menetapkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional serta melakukan pemulihan ekosistem.
2. Membenahi tata kelola kebijakan ekonomi untuk mengatasi ketimpangan sosial.
3. Menghentikan penyempitan ruang sipil dan militerisasi.
4. Memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).
5. Menurunkan biaya pendidikan serta mewujudkan sistem pendidikan yang berpihak kepada rakyat.
Melalui aksi tersebut, para demonstran mendorong pemerintah agar tidak hanya berfokus pada program bantuan sosial, tetapi juga memperkuat kebijakan yang mendukung pemerataan kesejahteraan, penciptaan lapangan kerja, dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.(*)

Editor : Cipi Ckandina
mahasiswa demo program mbg tuntut