batampos – Wasit asal Inggris, Michael Oliver, mencatat sejarah sebagai wasit Inggris dengan jumlah pertandingan terbanyak di Piala Dunia setelah memimpin laga perempat final Spanyol kontra Belgia di Stadion SoFi, Los Angeles, Sabtu (11/7) dini hari WIB. Pertandingan tersebut menjadi laga ketujuh yang dipimpinnya pada Piala Dunia 2026.
Meski tampil konsisten sepanjang turnamen, peluang Oliver untuk memimpin partai final Piala Dunia 2026 di MetLife Stadium pada 20 Juli mendatang dinilai semakin kecil. Penyebabnya bukan karena faktor performa, melainkan aturan penunjukan wasit FIFA yang mempertimbangkan aspek geopolitik.
Baca Juga: Febrie Adriansyah Mundur dari Jabatan Jampidsus, Burhanuddin Terima Pengunduran Diri
FIFA melarang seorang wasit memimpin pertandingan yang melibatkan negaranya sendiri guna menghindari konflik kepentingan dan menjaga netralitas. Namun, bagi wasit asal Inggris seperti Oliver dan Anthony Taylor, pembatasan tersebut juga berlaku terhadap pertandingan yang melibatkan Argentina.
Aturan itu berkaitan dengan sejarah konflik Inggris dan Argentina dalam Perang Falklands pada 1982. Sengketa atas Kepulauan Falklands masih menjadi isu sensitif di Argentina sehingga FIFA memilih menghindari potensi kontroversi dengan tidak menugaskan wasit Inggris memimpin laga yang melibatkan Argentina, begitu pula sebaliknya.
Kondisi tersebut membuat peluang Oliver memimpin final bergantung pada hasil semifinal. Ia baru berpeluang ditunjuk apabila partai puncak tidak melibatkan Argentina. Jika Argentina lolos ke final, FIFA diperkirakan akan menunjuk wasit dari negara lain.
Baca Juga: Delapan Pejabat Utama Polda Kepri Berganti, Kapolda Tekankan Profesionalisme dan Pelayanan PresisiSituasi serupa pernah dialami Anthony Taylor pada Piala Dunia 2022 di Qatar. Meski masuk dalam daftar kandidat wasit final berkat penampilannya yang impresif, Taylor akhirnya tidak dipilih karena Argentina berhasil melaju ke partai puncak menghadapi Prancis.
Dalam menentukan penugasan wasit, FIFA mengedepankan penilaian kinerja selama turnamen. Namun, faktor geopolitik dan potensi konflik kepentingan tetap menjadi pertimbangan penting dalam setiap penunjukan.
Kebijakan serupa juga diterapkan pada wasit asal Amerika Serikat yang tidak ditugaskan memimpin pertandingan yang melibatkan Iran. Selain itu, wasit juga dihindarkan dari pertandingan yang berkaitan langsung dengan kepentingan negaranya di jalur kompetisi.
Pada Piala Dunia 2026, FIFA menunjuk 160 ofisial pertandingan. Seluruh penugasan ditentukan berdasarkan evaluasi tim wasit yang dipimpin Ketua Komite Wasit FIFA, Pierluigi Collina.
Prinsip serupa juga berlaku di kompetisi domestik. Di Liga Inggris, misalnya, Michael Oliver yang berasal dari wilayah timur laut Inggris tidak diperbolehkan memimpin pertandingan yang melibatkan Newcastle United maupun Sunderland karena faktor kedekatan geografis.
Di sisi lain, kebijakan FIFA tersebut menuai kritik. Mantan wasit Premier League, Graham Scott, menilai aturan berbasis konflik sejarah sudah tidak lagi relevan.
Menurutnya, wasit profesional telah dilatih untuk bersikap netral sehingga tidak seharusnya dibatasi oleh rivalitas politik atau sejarah antarnegara.
"Sepak bola seharusnya sudah lebih dewasa. Wasit hanya melihat warna jersey, bukan sejarah konflik," ujar Scott.
Meski demikian, hingga kini FIFA belum menunjukkan tanda-tanda akan mengubah kebijakan tersebut, terutama untuk pertandingan-pertandingan krusial di ajang sebesar Piala Dunia. (*)
Editor : Jamil Qasim