Batam Kepulauan Riau Nasional Internasional Ekonomi & Bisnis Hukum & Kriminal Lifestyle Olahraga

Mengenal Tradisi Lampu Colok di Karimun, Membangun Silaturahmi dan Semangat Gotong Royong

Ichwanul Fazmi • Rabu, 12 Maret 2025 | 16:51 WIB

Keindahan desain lampu colok (cangkok) yang  menggambarkan masjid  akan kembali dilombakan di Karimun.
Keindahan desain lampu colok (cangkok) yang menggambarkan masjid akan kembali dilombakan di Karimun.
batampos - Tradisi Lampu Cangkok, juga dikenal sebagai Lampu Colok, adalah kebiasaan masyarakat Melayu di Kepulauan Riau (Kepri) yang dilakukan selama bulan suci Ramadan. Tidak terkecuali di Kabupaten Karimun.

Tradisi ini sudah berlangsung secara turun temurun. Lampu cangkok dibuat dari bahan bekas kaleng minuman diberi sumbu, dan minyak solar. Sejak sore warga sudah menyalakan lampu colok di sepanjang bahu jalan maupun jalan-jalan kampong, dan sekitar rumah warga.

Pemasangan lampu colok biasanya dimulai pada malam ke-21 Ramadan dan mencapai puncaknya pada malam ke-27, yang dikenal sebagai Malam Tujuh Likur. Malam ini diyakini sebagai malam turunnya Lailatul Qadar, malam yang penuh berkah dalam keyakinan umat Islam.

Pada malam-malam tersebut, masyarakat tidak hanya menyalakan lampu-lampu cangkok, tetapi juga membangun gapura atau gerbang bernuansa Islami, menghiasi lingkungan dengan ornamen kaligrafi dan kubah masjid, serta mengadakan kenduri atau makan bersama sebagai ungkapan rasa syukur dan kebersamaan.

Di Kabupaten Karimun, tradisi lampu cangkok terus dilestarikan melalui penyelenggaraan Festival Lampu Colok. Festival ini melibatkan partisipasi aktif dari berbagai desa dan kecamatan yang berlomba menampilkan kreativitas dalam merangkai, dan menata lampu cangkok dengan desain yang unik dan estetis.

Festival Lampu Colok yang dilaksankan di Kabupaten Karimun pun mengikuti perkembangan zaman. Di mana saat ini ada dua kategori yang diperlombakan. Yakni jenis lampu hias cangkok, dan lampu hias elektronik.

Tidak sekadar men gaja memeriahkan, namun Pemerintah Kabupaten Karimun pun menyediakan uang pembinaan. Kegiatan ini tidak hanya memperindah suasana malam Ramadan tetapi juga mempererat tali silaturahmi antarwarga melalui semangat gotong royong.

Melalui tradisi Festival Lampu Cangkok, masyarakat Karimun tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur tetapi juga menciptakan suasana Ramadan yang meriah dan penuh makna, memperkuat nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan spiritualitas dalam kehidupan sehari-hari. (*)

Editor : Ichwanul Fazmi
#lampu colok #karimun