Kasus Campak Meningkat, Dinkes Batam Perketat Pengawasan

Muhammad Syaban • Dipublikasikan Rabu, 1 April 2026 | 07:00 WIB
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam Didi Kusmarjadi.

 batampos – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batam memastikan belum ada indikasi Kejadian Luar Biasa (KLB) campak di wilayahnya, meski secara nasional terjadi peningkatan kasus.

Kondisi ini mendorong Kementerian Kesehatan RI menerbitkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/1602/2026 tentang kewaspadaan terhadap penyakit campak.

Kepala Dinkes Batam, Didi Kusmarjadi, mengatakan hasil pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) menunjukkan kondisi masih terkendali.

“Berdasarkan pemantauan SKDR, belum ada peningkatan signifikan yang mengarah ke KLB. Namun tetap ada sinyal kewaspadaan di beberapa wilayah,” ujarnya, Selasa (31/3).

Meski demikian, potensi penularan tetap ada. Karena itu, respons cepat terus diperkuat untuk mencegah lonjakan kasus.

Perketat Pengawasan dan Respons Cepat

Menindaklanjuti edaran Kemenkes, Dinkes Batam memperkuat pemantauan rutin melalui SKDR setiap pekan guna mendeteksi dini potensi peningkatan kasus.

Setiap sinyal peringatan (alert) langsung diverifikasi dan ditindaklanjuti. Bahkan, penyelidikan epidemiologi dilakukan maksimal dalam waktu 24 jam terhadap setiap kasus suspek.

“Kami juga meningkatkan kewaspadaan di seluruh fasilitas layanan kesehatan, mulai dari puskesmas, klinik hingga rumah sakit,” kata Didi.

Selain itu, sweeping imunisasi dan imunisasi kejar terus digencarkan bagi anak-anak yang belum mendapatkan vaksin lengkap. Edukasi kepada masyarakat juga diperkuat, terutama terkait gejala campak dan pentingnya imunisasi.

Cakupan Imunisasi Masih Rendah

Di sisi lain, Dinkes mengakui cakupan imunisasi campak-rubella (MR) di Batam masih rendah. Data menunjukkan imunisasi MR dosis pertama (usia 9 bulan) baru mencapai 16,7 persen, sementara imunisasi lanjutan sekitar 15,7 persen.

Rendahnya capaian ini terjadi di 12 kecamatan dan dipengaruhi penolakan sebagian orang tua terhadap imunisasi.

“Masih ada orang tua yang menolak anaknya diimunisasi. Ini menjadi tantangan utama,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, petugas kesehatan bersama kader terus melakukan sweeping guna menjangkau anak-anak yang belum diimunisasi.

Imbauan untuk Waspada

Dinkes Batam mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh campak. Selain mudah menular, penyakit ini berpotensi menimbulkan komplikasi serius, terutama pada anak-anak.

Pemerintah menegaskan, pencegahan paling efektif tetap melalui imunisasi.

“Kami berharap masyarakat melengkapi imunisasi anak. Ini penting untuk melindungi individu sekaligus lingkungan,” kata Didi.

Dengan pengawasan yang diperketat dan partisipasi masyarakat, Dinkes optimistis Batam dapat terhindar dari lonjakan kasus maupun KLB campak di tengah tren peningkatan nasional. (*)

Editor : M Tahang
campak