batampos – Minyak goreng bersubsidi merek Minyakita mulai sulit ditemukan di pasaran. Kondisi ini memicu keluhan masyarakat, terutama di tengah kenaikan harga minyak goreng premium.
Sejumlah pedagang mengaku terdampak langsung. Salah satunya Resti, pedagang makanan di Batam, yang merasakan kenaikan biaya produksi akibat mahalnya harga minyak goreng.
“Rata-rata minyak goreng naik harga, Minyakita sudah tidak ada di pasar,” ujarnya.
Menurut Resti, kondisi ini membuat margin keuntungan semakin menipis. Ia terpaksa mengeluarkan biaya lebih besar untuk membeli minyak goreng dengan harga tinggi.
“Kalau terus begini, keuntungan makin tipis. Harga jual juga tidak bisa langsung dinaikkan,” tambahnya.
Ia pun mempertanyakan keberadaan Minyakita yang selama ini menjadi andalan pedagang kecil dan masyarakat berpenghasilan rendah. Kelangkaan ini dinilai semakin memberatkan pelaku usaha mikro.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Batam, Mardanis, membenarkan bahwa stok Minyakita di pasaran memang berkurang. Hal tersebut terjadi karena penyaluran oleh Perum Bulog untuk program ketahanan pangan.
“Minyakita di pasaran berkurang bukan karena harga naik, tetapi karena penyalurannya diprioritaskan untuk program ketahanan pangan,” jelasnya.
Menurutnya, sebagian besar kuota Minyakita saat ini dialokasikan untuk masyarakat kurang mampu melalui program tersebut. Ia memastikan ketersediaan akan kembali normal setelah distribusi program selesai.
Mardanis juga menegaskan bahwa harga Minyakita tidak mengalami kenaikan. Harga eceran tertinggi (HET) tetap Rp14.700 per liter, berbeda dengan minyak goreng premium yang saat ini cenderung naik.
“Untuk HET Minyakita tidak ada kenaikan, berbeda dengan merek lain,” ujarnya.
Selain itu, ia menegaskan bahwa Minyakita diperuntukkan bagi masyarakat menengah ke bawah. Karena itu, distribusinya dibatasi dan tidak diperbolehkan dijual di retail modern atau swalayan.
“Minyakita hanya dijual di pasar tradisional dan kedai kecil. Tidak diperbolehkan dijual di retail modern karena peruntukannya untuk masyarakat kurang mampu,” tegasnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik, karena pemerintah menjamin pasokan akan kembali stabil dalam waktu dekat.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Distributor Bahan Pokok Kota Batam, Ariyanto, juga membenarkan adanya kenaikan harga minyak goreng premium. Menurutnya, kenaikan dipicu meningkatnya biaya produksi di tingkat pabrik, termasuk harga bahan baku dan kemasan.
Meski demikian, sebagian distributor masih menjual stok lama sehingga dampaknya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Namun, kondisi di lapangan mulai menunjukkan tekanan akibat terbatasnya pasokan minyak goreng premium serta kosongnya stok Minyakita di sejumlah titik distribusi. (*)
Editor : Jamil Qasim