Investasi Batam Tembus Rp29,89 Triliun pada Semester I 2026, Melonjak 62,75 Persen

Muhammad Sya'ban • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 11:30 WIB
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batu Ampar. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos
Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Batu Ampar. Foto. Cecep Mulyana/ Batam Pos

batampos – Kepercayaan investor terhadap Kota Batam terus menguat. Sepanjang Semester I 2026, realisasi investasi di kota industri tersebut mencapai Rp29,89 triliun, meningkat 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar Rp18,37 triliun.

Lonjakan investasi tersebut menjadi sinyal positif bagi perekonomian Batam sekaligus memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat industri, perdagangan, dan investasi paling kompetitif di Indonesia.

Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad, mengatakan peningkatan investasi mencerminkan semakin kondusifnya iklim usaha di Batam.

"Alhamdulillah, realisasi investasi Batam pada Semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun atau tumbuh 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp18,37 triliun," kata Amsakar dalam keterangan resminya, Kamis (30/7).

Baca Juga:  5 Cara Mengatasi Ngantuk di Pagi Hari

Menurut Amsakar, capaian tersebut merupakan hasil sinergi Pemerintah Kota Batam, BP Batam, pemerintah pusat, serta berbagai pemangku kepentingan dalam menciptakan kepastian hukum dan kemudahan berusaha bagi investor.

"Investasi yang terus tumbuh menjadi bukti bahwa Batam masih menjadi pilihan utama bagi pelaku usaha," ujarnya.

 

Jumlah Proyek dan Serapan Tenaga Kerja Ikut Meningkat

Tidak hanya nilai investasi yang melonjak, jumlah proyek yang direalisasikan juga meningkat signifikan. Pada Semester I 2026 terdapat 15.826 proyek investasi, naik 32,82 persen dibandingkan Semester I 2025 yang berjumlah 11.915 proyek.

Sebagian besar proyek tersebut telah memasuki tahap produksi. Tercatat 6.932 proyek sudah beroperasi atau meningkat 52,32 persen, sedangkan 8.894 proyek masih berada pada tahap konstruksi atau naik 20,78 persen.

Peningkatan investasi juga berdampak pada penciptaan lapangan kerja. Sepanjang enam bulan pertama 2026, investasi di Batam menyerap 40.943 tenaga kerja, terdiri dari 40.423 tenaga kerja Indonesia (TKI) dan 520 tenaga kerja asing (TKA). Jumlah tersebut meningkat 32,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Baca Juga: Sekolah Lansia Pertama di Bulang

Rata-rata nilai investasi per proyek kini mencapai sekitar Rp1,89 miliar, dengan investasi yang mulai bergeser ke sektor bernilai tambah tinggi seperti manufaktur berteknologi tinggi, industri kimia, farmasi, kawasan industri, dan logistik.

Lima negara penyumbang investasi terbesar di Batam selama Semester I 2026 berasal dari Singapura, Hong Kong, Korea Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat.

 

Pengamat: Pertumbuhan Harus Berdampak Lebih Luas

Di balik lonjakan investasi tersebut, pengamat ekonomi Batam sekaligus Wakil Rektor Universitas Batam (Uniba), Gita Indrawan, mengingatkan pentingnya memastikan pertumbuhan ekonomi memberikan manfaat yang lebih merata bagi masyarakat.

Menurutnya, Batam saat ini telah menjadi salah satu motor pertumbuhan ekonomi nasional dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 7,49 persen pada triwulan IV 2025 dan 6,76 persen sepanjang 2025. Kontribusi Batam terhadap perekonomian Provinsi Kepulauan Riau juga mencapai 66,44 persen dengan nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) sebesar Rp253,64 triliun.

"Namun di balik gemilangnya angka-angka makro tersebut, terdapat sejumlah persoalan struktural dan tantangan ke depan yang perlu dicermati secara mendalam," kata Gita.

Ia menjelaskan industri pengolahan masih menjadi penggerak utama ekonomi Batam dengan kontribusi lebih dari 57 persen terhadap PDRB. Sementara investasi mulai bergeser ke sektor bernilai tambah tinggi seperti teknologi informasi, energi terbarukan, industri kimia, dan farmasi.

Baca Juga: Puluhan Tahun Berjalan Ilegal, Usulan Legalisasi Pelra Sei Gentong Bintan Dipersoalkan

Meski demikian, Gita menilai pemerintah perlu memastikan manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan rantai pasok industri lokal, serta pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.

"Batam tidak cukup hanya menjadi tempat perakitan produk global. Ke depan, Batam harus mampu membangun ekosistem industri yang terintegrasi, mulai dari rantai pasok, sumber daya manusia, hingga inovasi teknologi," ujarnya.

Ia menambahkan, tantangan lain yang perlu diantisipasi adalah ketergantungan terhadap bahan baku impor, kesenjangan keterampilan tenaga kerja, kesiapan infrastruktur dasar, serta keberlanjutan lingkungan agar pertumbuhan ekonomi Batam tetap inklusif dan berdaya saing dalam jangka panjang. (*)

 

Editor : Putut Ariyo
bp batam amsakar achmad batam ekonomi batam investasi batam